Banyak orang merasakan dan mungkin malah mengatakan bahwa kegiatan menulis merupakan kegiataan sangat menyiksa, kegiatan menulis itu hanya bisa dilakukan beberapa gelintir manusia. Dan, masih banyak lagi hal-hal senada yang terlintas di benak mereka berkait dengan “penyiksaan” kegiatan menulis.
Itu sangat kita sadari dan harus kita maklumi. Mengapa? Karena, bagaimana pun hal itu dapat kita umpamakan seperti seseorang yang belum pernah meminum “jamu”. Bagi orang yang belum pernah meminum jamu tidak akan pernah merasakan nikmat minum jamu. Ketika seseorang, yang belum pernah meminum jamu, akan meminum jamu, perasaan dan pikirannya, sudah diselimuti gambaran rasa “pahit, tidak enak” terhadap jamu yang akan diminumnya. Padahal, belum tentu jamu yang akan diminum itu selalu pahit dan tidak enak. Itu terjadi karena dalam perasaan dan pikirannya belum terlintas atau bahkan tidak terlintas kenikmatan yang bisa diperoleh dari jamu itu di saat-saat mendatang.
Memang, untuk bisa dan mau meminum jamu ada dua kemungkinan cara yang dapat dilakukan. Pertama, dengan cara orang lain memaksa dia untuk meminum jamu. Seperti anak-anak kita sangat sulit jika kita suruh meminum obat atau pun jamu. Tetapi, jika kita pandai-pandai memotivasi, pada akhirnya dia mau meminum obat itu. Dan, pada akhirnya kita berharap mereka mau melakukan seperti itu lagi, namun kita tidak perlu lagi mengeluarkan motivasi-motivasi berat, tetapi cukup motivasi-motivasi ringan. Kedua, dengan cara memaksa diri sendiri meminum obat atau jamu itu karena kita sebenarnya tahu dan menyadari tujuan dan manfaat meminum obat atau jamu.
Memang, mengawali itu sangat sulit, apa pun pekerjaan atau pun kegiatannya. Tidak hanya terbatas kegiatan menulis. Kegiatan yang berkait dengan ketaqwaan sekalipun tidak semua manusia dengan mudah melaksanakannya. Padahal, hasil kegiatan itu (ketaqwaan) untuk kepentingan hidup abadinya kelak. Apalagi, menulis yang secara eksplisit hasil kegiatan itu tidak begitu tampak dan bahkan sangat kabur, bagi oarang-orang yang belum berfikir keindahan menulis.
Kita tidak boleh sepesimis itu. Apalagi, guru dan lebih-lebih guru yang mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia. Ada terasa hukum wajib guru bahasa Indonesia harus pernah mebuat dan menghasilkan karya tulis baik yang emajinatif maupun yang nonemajinatif. Guru bahasa Indonesia tidak boleh hanya bisa memerintah dan memberi tugas “menulis” kepada para siswanya, padahal dia sendiri belum pernah sekali pun menunjukkan kemampuannya membuat suatu karya tulis untuk “dipamerkan” di hadapan para siswanya.
Mengapa begitu? Ada beberapa alasan yang sangat bermanfaat bagi siswa atau pun guru itu sendiri. Manfaat itu antara lain:
1. Dengan menunjukkan contoh hasil kerjanya akan sangat memberi motivasi siswa berlatih menulis.
2. Dengan menunjukkan contoh hasil kerjanya akan sangat memberi kesan kepada siswa bahwa gurunya tidak hanya sekedar menuntut, tetapi sudah secara langsung memberi contoh kepada siswa.
3. Dengan menunjukkan contoh hasil kerjanya akan digunakan siswa sebagai “model” membuat karya tulis, utamanya berkait dengan teknis penulisan, diksi, ketaatan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Itu semua, sangat saya rasakan pengaruh yang terlihat pada siswa saya. Ketika saya beri tahukan pelajaran pada hari ini pelajaran menulis puisi, hampir semua siswa “mengeluh“, lebih-lebih yang merasa sama sekali tidak mampu membuat puisi. Mereka sangat kebingunan. Justru ada yang hampir putus asa. Mengapa? Karena belum biasa, menjadi merasa tidak bisa. Ternyata kata kuncinya “merasa tidak bisa”. Dari situlah mereka kita motivasi dengan menceritakan pengalaman kita dengan menunjukkan hasil kerja kita. Misal, dari sebuah pengalaman hidup ketika kita memiliki rasa kepada seseorang. Pengalaman itu jika ditulis, misalnya, menjadi,
“Suatu hari aku berjalan-jalan di suatu tempat. Keindahan alam terpajang alami. Tiada rasa dan mata manusia yang tak menyanjung-Nya. Sayang, saat itu aku sendiri. Dan, memang masih sendiri. Menjelang di suatu belokan jalan, aku merasa ada sesuatu yang menarik terhadap hatiku. Ternyata ada sesosok wanita sedang berjalan di antara rombongan. Tampak ia sangat menikmati. Itulah kamu. Harapanku. Dambaanku. Walau, aku belum pernah beradu kata. Karena itu, ketika berpapasan, aku pandang wajahmu dengan rasa hatiku. Tetapi, tiada reaksi apa pun yang terpancar di sudut matamu. Hanya kehampaan yang ada. Hanya kesunyian yang ada. Asaku sirna. Tiadakah rasa?”
Pengalaman seperti itu kita ceritakan dan kita buktikan di hadapan para siswa bahwa cerita itu dapat diubah dalam bentuk lain, yaitu bentuk puisi. Cerita itu jika kita ubah menjadi puisi menjadi:
KUPANDANG
aku
pandang
wajah
tanpa
sorot
tiadakah
rasa
Siswa kita suruh membandingkan keindahan yang terdapat pada cerita pengalaman yang sama, tetapi ditulis dengan bentuk berbeda. Ternyata mereka sangat tertarik dengan hasil karya guru mereka walaupun karya itu sangat sederhana. Justru dari keserhanaanlah kita harus memulai suatu pengajaran kepada siswa bukan sesuatu yang dirasa mereka sangat berat. Jika pengajaran itu dimulai dari sesuatu yang berat, justru akan meredupkan bahkan, mungkin, dapat memadamkan keinginan dan semangat siswa untuk mengungkapkan sesuatu dalam bentuk tulisan.
Berkait dengan pengajaran menulis puisi, hal yang dapat kita lakukan antara lain:
Pertama, pada awalnya memang kita harus memberikan contoh-contoh puisi karya sastrawan yang sudah dikenal di kalangan kesastraan.
Kedua, sekali lagi, untuk memberi kepercayaan lebih tebal bahwa bukan sastrawan belaka yang mampu membuat puisi, puisi ciptaan guru yang sedang mengajar itu sendiri harus ditampilkan untuk memotivasi siswa. Misal, guru mencontohkan hasil karyanya sebagai berikut:
Contoh 1 (bentuk puisi konvensional)
TAK TERASA
tak terasa
perjalanan ini
semakin dekat
dan semakin sangat dekat
itu berarti liang di sana
telah menanti
tinggal teman sejati
kan selalu mendampingi
itu bukan berarti
akhir kehidupan
tetapi
awal kehidupan abadi
pembelanjaan duniawi
akan sangat berarti
perjalanan ini
semakin dekat
dan semakin sangat dekat
itu berarti liang di sana
telah menanti
tinggal teman sejati
kan selalu mendampingi
itu bukan berarti
akhir kehidupan
tetapi
awal kehidupan abadi
pembelanjaan duniawi
akan sangat berarti
Contoh 2 (bentuk puisi nonkonvensional)
Tak Selamanya Bersolek Itu Cantik
Setiap kali berhadapan dengan kaca
setiap kali itu pula Silvi bermanyun muka
memang t a k per nah me ra sa nya man
jika ia bertemu dengan itu benda
apalagi harus bertubruk pandang dengan dirinya
gadis semampai atau satu meter tak sampai
mata segaris seperti mata di kartu remi
hidung lebih mancung memburi
gigi
bertebar asal jadi
Huh!
wajah un lucky
menyebalkan hati
haruskah berendah diri?
Tuhan tersenyum berseri
Ketiga, sebagai pengalaman pertama menulis, sebaiknya dimulai dari pengalaman-pengalaman yang pernah dilakukan mereka. Dengan menggunakan pengalaman, akan sangat membantu mereka mengungkapkan kembali dalam bentuk tulisan.
Keempat, untuk menulis puisi atau pun apa saja yang akan ditulis, tidak perlu memikirkan terlebih dahulu “judul” tulisannya, dan itu biasanya yang selalu terjadi. Kebiasaan seperti itu harus segera hilang dari kebiasaan mereka. Yang terpenting, ide pokok harus ada. Apakah ide pokok itu nantinya menjadi judul atau justru judul berbeda bunyi dengan ide pokok, itu urusan nanti. Kegiatan menulis harus langsung menuliskan apa yang terlintas di pikiran atau pun perasaannya berdasar ide yang ada. Benar atau salah, tepat atau belum pilihan kata yang digunakan tidak perlu dipikir saat proses menulis berlangsung. Koreksi kesalahan atau kekurangtepatan pilihan kata bisa dilakukan setelah proses menulis selesai.
Kelima, berkait dengan bentuk, untuk menulis puisi, guru tidak perlu memberi batasan bentuk yang bagaimana yang harus digunakan. Mereka kita beri kebebasan menggunakan bentuk susunan bait. Artinya, siswa tidak perlu menggunakan bentuk-bentuk susunan bait konvensional, tetapi mereka bisa berinovasi menurut keinginan pikiran dan perasaannya. Mengapa? Karena, ada kemungkinan bentuk-bentuk inovasi bait itu ada keterkaitannya dengan isi puisi yang ingin disampaikan. Misal, jika kita cermati puisi yang dibuat oleh siswa ini:
KEESAANMU
Esa Esa Esa Tiada
Engkau Kau Kau satu
Kau yang yang zat yang
Menciptakan tahu yang mampu
Seluruh alam segala Maha menyamai
Dunia dan isi Pengasih keesaanmu
Dunia dan isi Pengasih keesaanmu
Akhirat jagat Pengampun zat-Mu
Hilmi Aziz, XI IA2
Puisi itu sebenarnya terdiri atas empat bait. Tetapi, empat bait itu tidak disusun secara konvensional. Cara membacanya pun tidak seperti biasanya, dari kiri ke kanan tiap baris. Tetapi, puisi itu harus dibaca dari bait kiri ke kanan. Bentuk itu menggambarkan isi judul puisi itu. Itu sangat mirip dengan tulisan arab “Allah”. Dan, keesaan Allah digambarkan di setiap bait puisi itu.
Puisi itu “original” sekali. Bentuk puisi seperti itu, mungkin, baru pertama kali ada di wilayah sastra kita. Hal seperti itu sangat membagakan. Dan, kami masih memiliki sekian ratus puisi siswa dengan keanekaragaman bentuk dan isi.
Keenam, puisi-puisi ciptaan para siswa harus kita hargai. Bukan hanya berarti harus kita beri hadiah secara material berupa nilai belaka. Penghargaan itu cukup dengan mengumpulkan puisi-puisi tersebut berdasar kelompok kelas, setiap puisi harus diberi identitas pengarangnya, dijilidkan dengan diberi kaver menurut selera dan kesepakatan kelas. Hasil yang sudah dalam bentuk buku kumpulan puisi itu diabadikan di perpustakaan sekolah, dan dijadikan bahan sirkulasi di perpustakaan sekolah. Cara seperti itu ternyata sangat mujarab memompa gairah siswa membuat karya tulis, sastra. Itu terbukti tiap siswa mampu mengumpulkan enam sampai dengan tujuh puisi. Jika satu kelas berjumlah 32 siswa, berarti satu kelas memiliki puisi sekitar 192 puisi yang berbeda-beda. Jika seorang guru bahasa Indonesia mengajar empat kelas (seperti saya), pada saat itu terkumpul 768 puisi dengan tema dan bentuk bervariasi. Sungguh luar biasa. Itu (768) baru kegiatan satu semester, padahal kegiatan seperti itu telah berlangsung selama tiga tahun terakhir.
Ketujuh, kita harus selalu menanamkan slogan “tidak akan pernah bisa selama kita belum mencoba apalagi tidak pernah mencoba”.
Semoga pengalaman ini, berguna bagi siapa pun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar