CARA MENGEMBANGKAN PARAGRAF
Secara umum pengembangan paragraf dapat digambarkan sebagai berikut:
Pertama : pengembangan dari khusus ke umum atau sering disebut pengembangan induksi.
Jenis pengembangan dari khusus ke umum, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Cara-cara itu adalah :
a. cara sebab akibat
b. cara akibat sebab
c. cara analogi
d. cara generalisasi.
Kedua : pengembangan dari umum ke khusus atau sering disebut pengembangan deduksi.
Jenis pengembangan dari umum ke khusus, juga ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Cara itu adalah :
a. cara silogisme
b. cara entimem
c. cara pola biasa
1. Pengembangan dari khusus ke umum
Pengembangan paragraf dengan pola khusus ke umum dikembangan dengan cara pada awal-awal paragraf sampai hampir mendekati akhir paragraf berisi informasi-informasi yang memiliki kekhususan. Informasi khusus itu nantinya akan digunakan membuat suatu pernyataan umum berkait dengan kekhususan-kekhususan yang telah diberitakan pada awal-awal paragraf itu.
Pengembangan paragraf dengan pola khusus ke umum dikembangan dengan cara pada awal-awal paragraf sampai hampir mendekati akhir paragraf berisi informasi-informasi yang memiliki kekhususan. Informasi khusus itu nantinya akan digunakan membuat suatu pernyataan umum berkait dengan kekhususan-kekhususan yang telah diberitakan pada awal-awal paragraf itu.
a. Pengembangan sebab akibat
Pengembangan paragraf dengan pola sebab akibat memberi pengertian bahwa kalimat-kalimat pada bagian awal sampai mendekati akhir paragraf merupakan sebab-sebab yang akan dijadikan dasar membuat suatu rumusan berupa akibat dari sebab-sebab tersebut. Perlu dipahami bahwa kalimat yang disebut sebab pada bagian itu tidak boleh memiliki hubungan sebab akibat dengan kalimat berikutnya. Artinya kalimat pertama menimbulkan akibat yang terdapat pada kalimat kedua. Kalimat kedua menjadi sebab timbulnya kalimat ketiga dan seterusnya, bukanlah demikian. Tetapi, semua kalimat yang menjadi sumber akibat yang terdapat pada akhir paragraf harus benar-benar kalimat yang menyatakan “sebab murni”
Pengembangan paragraf dengan pola sebab akibat memberi pengertian bahwa kalimat-kalimat pada bagian awal sampai mendekati akhir paragraf merupakan sebab-sebab yang akan dijadikan dasar membuat suatu rumusan berupa akibat dari sebab-sebab tersebut. Perlu dipahami bahwa kalimat yang disebut sebab pada bagian itu tidak boleh memiliki hubungan sebab akibat dengan kalimat berikutnya. Artinya kalimat pertama menimbulkan akibat yang terdapat pada kalimat kedua. Kalimat kedua menjadi sebab timbulnya kalimat ketiga dan seterusnya, bukanlah demikian. Tetapi, semua kalimat yang menjadi sumber akibat yang terdapat pada akhir paragraf harus benar-benar kalimat yang menyatakan “sebab murni”
Mari kita cermati contoh berikut!
1)Anak itu tercatat sebagai pelajar di sekolah X. 2)Hampir setiap hari, waktu yang ada hanya digunakan untuk bermain. 3)Bersekolah hanya sekedar mencari status agar dikatakan anak terpelajar. 4)Hampir setiap hari absen bersekolah. 5)Setiap awal bulan selalu meminta uang untuk membayar sumbangan pendidikan. 6)Uang itu pun habis digunakan bersenang-senang. 7)Sudah terlalu banyak pelanggaran yang dilakukan. 8)Sekolah mengembalikan dia kepada orang tuanya.
Kalimat kedua pada paragraf itu bukan akibat dari adanya kalimat pertama. Kalimat ketiga juga bukan akibat adanya kalimat kedua atau pun kalimat pertama. Begitu seterusnya sampai dengan kalimat ketujuh. Sedangkan, kalimat kedelapan merupakan akibat yang muncul dari kalimat pertama sampai dengan kalimat ketujuh.
Untuk mempertajam pemahaman paragraf sebab akibat, cermati paragraf berikut!
Perintah sudah aku berikan. Petunjuk sudah aku sampaikan. Tetapi, nafsu tampaknya, terlalu menyetir pikiran dan nurani dia. Padahal, dia telah tahu tugas pokok sebagai karyawan yang ditempatkan di unit kerja tertentu. Buku-buku masih berserakan di lantai dari saat pengecatan sampai dengan selesai pengecatan. Dengan cara kerja seperti itu, semua pelayanan menjadi terhambat dan bahkan berhenti sama sekali untuk jangka waktu tertentu.
Pada contoh kedua itu sangat terasa, dari sebab-sebab yang dipaparkan pada kalimat-kalimat sebelum kalimat terakhir menjadikan kemunculan akibat seperti tertera pada kalimat terakhir paragraf tersebut.
Pada jenis pengembangan seperti itu, kalimat utama bukan berada pada kalimat yang menjadi sebab. Tetapi, kalimat utama paragraf jenis sebab akibat terdapat pada akhir paragraf itu.
Bagaimana dengan contoh berikut?
Krisis keuangan global baru saja melanda dunia. Amerika Serikat sebagai negara adidaya dalam segala hal dan boleh dikatakan kiblat dari segalanya nyaris tak berdaya. Perekonomian di negara itu hampir lumpuh total. Debitur-debitur besar atau pun kecil tidak lagi memiliki kemampuan mengkredit pinjaman mereka. Bangk-bank besar banyak mengalami kesulitan keuangan. Apalgi, bank-bank kecil pasti gulung tikar. Untuk menghadapi problema itu Amerika Serikat mengambil keputusan memberi pinjaman secara lunak kepada sektor-sektor keuangan dan pelaku usaha Amerika. Banyak negara maju dan negara berkembang merasa “klimpungan” menghadapi krisis itu. Lebih-lebih, negara miskin akan sangat tak berdaya menghadapi keadaan itu.
b. Pengembangan akibat sebab
Pengembangan paragraf model ini merupakan kebalikan pola pengembangan sebab akibat. Artinya kalimat awal paragraf sampai dengan mendekati akhir paragraf berisi akibat-akibat yang nantinya bersumber pada sebab yang berada pada akhir paragraf. Dan, perlu diingat, kalimat-kalimat yang berada di awal-awal paragraf jenis ini tidak boleh memiliki hubungan sebab akibat. Itu berarti, kalimat-kalimat tersebut harus benar-benar murni berisi sejumlah akibat yang terjadi karena sebab yang disebutkan pada kalimat terakhir paragraf itu.
Pengembangan paragraf model ini merupakan kebalikan pola pengembangan sebab akibat. Artinya kalimat awal paragraf sampai dengan mendekati akhir paragraf berisi akibat-akibat yang nantinya bersumber pada sebab yang berada pada akhir paragraf. Dan, perlu diingat, kalimat-kalimat yang berada di awal-awal paragraf jenis ini tidak boleh memiliki hubungan sebab akibat. Itu berarti, kalimat-kalimat tersebut harus benar-benar murni berisi sejumlah akibat yang terjadi karena sebab yang disebutkan pada kalimat terakhir paragraf itu.
Mari kita cermati contoh berikut!
Kepala ini terasa pecah. Berfikir sedikit saja terasa dunia ini berputar. Berjalan selangkah dua langkah seakan muka bumi ini bergoyang-goyang terkena gempa bumi dahsyat. Aku berhenti dan berpegangan, tapi semuanya tidak bisa membantu keadaanku. Mungkinkah apa yang aku alami ini karena pengaruh minuman tadi?
Benarkah contoh itu paragraf dengan pengembangan akibat sebab?
Bagaimana dengan contoh berikut?
Susi hari ini jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Wajahnya tampak murung. Gairah belajarnya pun jauh dari kebiasaannya. Sering pandangannya lepas melayang. Pertanyaan-pertanyaan cerdas yang biasanya meluncur lepas, hari ini sepi senyap lepas bebas tak berbekas. Waktu istirahat, ia duduk menyendiri di sudut taman. Ia tampak melamun. Ia terperanjat ketika Ali lewat dan bertanya, “Mengapa kamu duduk sendiri di sini?” ia tampak tersenyum malu, “Aku rindu kamu.”
Kalimat pertama sampai dengan kalimat ketujuh berisi akibat. Ternyata akibat-akibat itu bermula dari sebuah sebab yang terdapat pada kalimat kedelapan “Aku rindu kamu”. Kerinduan itulah yang menjadikan Susi memiliki keberbedaan hari itu dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Sungguh sangat hebat akibat penyakit rindu yang menjangkiti seseorang.
Cermati juga contoh berikut!
Jam yang biasanya setia membangunkan aku pagi-pagi berubah tabiat. Tak sedenting pun bunyi dikeluarkan dari bibirnya. Seakan ia membisu seribu bahasa. Tak mau mempedulikan tuannya. Akibatnya aku bangun pagi terlambat. Bergegas ke kamar mandi, sabun, sikat gigi tertinggal di almari. Akan langsung mandi pun air pun tinggal beberapa senti. Terpaksa mandi mini. Belum selesai mandi, hujan deras turun membasahi bumi. Cepat-cepat aku lari dan berpakaian rapi. Mencari dan menstop kendaraan tak ada yang mau berhenti. Terpaksa aku berjalan kaki. Sampai di sekolah jam pelajaran sudah dimulai satu jam lalu. Lapor ke guru piket, aku disuruh menanti. Sungguh sial aku hari ini.
Benarkah contoh itu dikembangkan dengan model akibat sebab?
c. Pengembangan generalisasi
Paragraf generalisasi diawali dengan menampilkan data-data secara individu atau kelompok hasil suatu kegiatan atau apa pun yang nantinya dapat digeneralisasikan. Dengan catatan data yang diperoleh harus memiliki sifat kesamaan antarindividu atau antarkelompok atau antarapa pun baik secara kulitas maupun kuantitas. Objek-objek khusus yang tidak memiliki keterkaitan atau hubungan tidak dapat digunakan sebagai dasar membuat generalisasi.
Dari objek khusus yang memiliki kesamaan itu diolah sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu pernyataan yang dapat diberlakukan pada semua anggota yang digunakan dasar menggeneralisasikan. Oleh karena itu generalisasi harus bersifat umum dan berlaku untuk kelompok bukan untuk individu.
Cermati contoh berikut!
Paragraf generalisasi diawali dengan menampilkan data-data secara individu atau kelompok hasil suatu kegiatan atau apa pun yang nantinya dapat digeneralisasikan. Dengan catatan data yang diperoleh harus memiliki sifat kesamaan antarindividu atau antarkelompok atau antarapa pun baik secara kulitas maupun kuantitas. Objek-objek khusus yang tidak memiliki keterkaitan atau hubungan tidak dapat digunakan sebagai dasar membuat generalisasi.
Dari objek khusus yang memiliki kesamaan itu diolah sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu pernyataan yang dapat diberlakukan pada semua anggota yang digunakan dasar menggeneralisasikan. Oleh karena itu generalisasi harus bersifat umum dan berlaku untuk kelompok bukan untuk individu.
Cermati contoh berikut!
Seorang wanita muda mengendari mobil sedan tergelincir hampir masuk ke selokan di pinggir jalan. Itu terjadi karena di badan jalan itu terdapat ceceran minyak pelumas cukup banyak. Mungkin wanita itu tidak tahu sehingga ia mengendarai mobilnya seperti biasa. Sehari sebelumnya di tempat berbeda juga terjadi kecelakaan dan lagi-lagi pengendaranya juga wanita. Ia mengalami kecelakaan menabrak pohon di tepi jalan itu karena ban depan kiri kempes mendadak. Cukup lumayan kerusakan yang dialami mobilnya. Ternyata wanita tidak memiliki kemampuan baik mengendarai kendaraan bermotor
Pernyataan-pernyataan khusus seperti itu tidak dapat dijadikan dasar menggeneralisasikan menjadi “Wanita tidak memiliki kemampuan baik mengendarai kendaraan bermotor”. Mengapa? Kejadian-kejadian itu memiliki sifat relatif dan insidental. Selain itu, unsur ketidaksengajaan sangat dominan.
Pernyataan-pernyataan khusus seperti itu tidak dapat dijadikan dasar menggeneralisasikan menjadi “Wanita tidak memiliki kemampuan baik mengendarai kendaraan bermotor”. Mengapa? Kejadian-kejadian itu memiliki sifat relatif dan insidental. Selain itu, unsur ketidaksengajaan sangat dominan.
Sekarang, kita coba mencermati contoh berikut!
Suatu lembaga penelitian mengadakan surve berkait calon pemimpin masa depan dengan menggunakan angket. Angket itu hanya berisi dua hal. Pertama tentang batas umur calon pemimpin negeri ini. Kedua kriteria kualitas calon pemimpin. Surve ditujukan kepada 500 responden dari berbagai kota besar di Indonesia. Hasil surve menunjukkan, yang menghendaki calon pemimpin minimal 40 tahun adalah 345 orang. Yang memilih minimal 50 tahun 150 orang. Sisanya menyatakan tidak tahu. Tentang kualitas, yang memilih calon pemimpin harus beriman, bertaqwa, memiliki lidersip, pemberani, selalu mengikuti kehendak rakyat, dan jujur berjumlah 130 orang. Yang 362 orang menghendaki calon pemimpin itu harus beriman, bertaqwa, memiliki lidersip, pemberani, dan jujur. Sisanya menyatakan tidak tahu. Berdasar kenyataan itu surve itu menyimpulkan bahwa calon pemimpin yang dikehendaki rakyat adalah calon pemimpin yang relatif muda dan beriman, bertaqwa, memiliki lidersip, pemberani, dan jujur.
Contoh seperti itu dapat dimasukkan ke dalam golongan generalisasi karena data yang diperoleh data akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu data tersebut diperoleh dari objek yang menggunakan kesadaran tinggi ketika mereka memilih pilihan-pilihan yang diajukan pihak yang melaksanakan surve.
Contoh seperti itu dapat dimasukkan ke dalam golongan generalisasi karena data yang diperoleh data akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu data tersebut diperoleh dari objek yang menggunakan kesadaran tinggi ketika mereka memilih pilihan-pilihan yang diajukan pihak yang melaksanakan surve.
d. Pengembangan analogi
Analogi memiliki pengertian membentuk bentuk baru dengan cara meniru suatu bentuk yang sudah ada. Misal, kata “ketidakberesan”. Kata itu pada hakikatnya dibentuk denga cara meniru bentuk-bentuk tunggal yang diberi tambahan afiks “ke-an” seperti: keadilan, kecondongan, kehebatan. Kata-kata itu berbentuk dasar bentuk tunggal, yaitu: adil, condong, hebat. Lain halnya dengan kata “ketidakberesan” dibangun oleh bentuk dasar yang berasal dari dua bentuk tunggal, yaitu: tidak dan beres dan pembentukannya diperlakukan seperti kata berbentuk dasar tunggal.
Model peniruan seperti itu dapat juga digunakan untuk mengembangkan suatu topik menjadi paragraf. Pengembangan bisa didasari dari pengalaman-pengalaman yang sudah pernah dilakukan atau dapat juga dari pengetahuan-pengetahuan yang pernah diperoleh dan sudah pernah diterapkan.
Mari kita cermati contoh berikut!
Analogi memiliki pengertian membentuk bentuk baru dengan cara meniru suatu bentuk yang sudah ada. Misal, kata “ketidakberesan”. Kata itu pada hakikatnya dibentuk denga cara meniru bentuk-bentuk tunggal yang diberi tambahan afiks “ke-an” seperti: keadilan, kecondongan, kehebatan. Kata-kata itu berbentuk dasar bentuk tunggal, yaitu: adil, condong, hebat. Lain halnya dengan kata “ketidakberesan” dibangun oleh bentuk dasar yang berasal dari dua bentuk tunggal, yaitu: tidak dan beres dan pembentukannya diperlakukan seperti kata berbentuk dasar tunggal.
Model peniruan seperti itu dapat juga digunakan untuk mengembangkan suatu topik menjadi paragraf. Pengembangan bisa didasari dari pengalaman-pengalaman yang sudah pernah dilakukan atau dapat juga dari pengetahuan-pengetahuan yang pernah diperoleh dan sudah pernah diterapkan.
Mari kita cermati contoh berikut!
Untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia wajib berusaha dengan menggunakan kekuatan dan kemampuan yang diberikan Yang Kuasa. Karena itu, pada awalnya Bu Ali ingin ikut meringankan beban ekonomi suami tercinta dengan membuat makanan ringan pisang kering manis. Pertama kali produksi berupa makanan ringan itu dikenalkan kepada ibu-ibu pada saat pertemuan kelompok PKK lingkungan tempat Bu Ali berada. Ternyata minat para ibu luar biasa dan banyak yang memesan. Dari pengalaman itu Bu Ali memasarkan kue itu tidak hanya di lingkungan sekitarnya, tetapi sudah berani menitipkan produknya itu di beberapa toko penjual makanan ringan atau warung-warung. ternyata banyak toko makanan ringan lainnya meminta Bu Ali menitipkan produksinya itu di toko mereka. Begitu juga warung-warung kelontong maupun warung-warung makanan. Dengan keadaan seperti itu akhirnya Bu Ali dan keluarganya memberanikan diri mengembangkan produksinya secara kualitas dan kuantitas untuk “go intercity”.
Jika kita teliti, pengembangan usaha keluarga Bu Ali itu didasarkan pada pengalaman-pengalaman. Bukan berdasar ambisi semata. Itu semua tidak lepas dari kualitas produksi.
Bagaimana dengan contoh berikut?
Aku manusia awam. Pengetahuanku sangat terbatas karena memang kehidupan keluargaku berada pada lingkungan sangat terbatas pula. Dengan semangat tinggi aku coba menata kehidupanku. Sedikit banyak aku bergaul dengan lingkungan lebih luas. Banyak hal aku peroleh dari pergaulan itu baik yang bernilai maupun yang tidak bernilai. Aku coba yang bernilai itu aku tanamkan dalam hati dan pikiranku. Aku coba renung kembangkan pengetahuan bernilai itu sehingga menjadi nilai tambah pada diriku. Setelah aku pahami dengan baik dan aku dapat melaksanakannya, aku coba tularkan kepada saudara-saudaraku yang muda. Awalnya mereka heran, aku bisa berbuat demikian. Tetapi, ia mengakui bahwa setelah mereka mencoba menerapkan apa yang aku sampaikan, mereka merasakan suatu ketenangan hidup dibandingkan sebelumnya. Suatu saat, keluargaku ngobrol bersama membahas kehidupan yang terasa semakin berat ini. Di saat itu, aku coba memasukkan nilai kebaikan itu kepada keluargaku bersama adik-adikku. Alhamdulillah, berkat ketekunan dan bimbingan-Nya, mereka dapat melakukan apa yang sebenarnya harus dilakukan manusia sebagai rasa bakti kepada-Nya. Dari saat itu terasa sekali kehidupan keluargaku tenteram, damai, dan rizki selalu ada saja.
2. Pengembangan dari umum ke khusus
Pengembangan penulisan ide pada pola umum-khusus pada hakikatnya sangat jarang diwujudkan dalam bentuk paragraf. Pengembangan jenis paragraf umum-khusus biasanya menggunkan bentuk terinci. Di sana terdapat pernyataan umum dan pernyataan khusus yang masing-masing memiliki keterkaitan. Pada akhirnya pernyataan umum dan pernyataan khusus itu digunakan sebagai dasar membuat pernyataan baru yang lebih khusus.
Perlu diingat, pernyataan umum memiliki pengertian bahwa di dalam pernyataan itu memuat informasi yang berlaku pada semua anggota yang terdapat pada kelompok itu. Pernyataan umum tidak boleh berisi pernyataan yang hanya berlaku pada individu-individu. Sedangkan, pernyataan khusus memuat informasi yang hanya berlaku pada individu atau kelompok tertentu. Dan, pernyataan khusus harus memiliki hubungan dengan pernyataan umum.
Selain bisa disebut sebagai pernyataan umum, pernyataan yang berisi informasi secara umum ini juga bisa disebut premis umum atau juga premis mayor. Sedangkan, pernyataan khusus biasa disebut premis khusus atau premis minor. Dua pernyataan itu pada akhirnya ditutup dengan sebuah pernyataan yang merupakan perpaduan antara pernyataan umum (PU) dan pernyataan khusus (PK) yang merupakan sebuah kesimpulan (K).
Jika pernyataan-pernyataan itu dibuat semacam patokan, dapat digambarkan sebagai berikut:
Pengembangan penulisan ide pada pola umum-khusus pada hakikatnya sangat jarang diwujudkan dalam bentuk paragraf. Pengembangan jenis paragraf umum-khusus biasanya menggunkan bentuk terinci. Di sana terdapat pernyataan umum dan pernyataan khusus yang masing-masing memiliki keterkaitan. Pada akhirnya pernyataan umum dan pernyataan khusus itu digunakan sebagai dasar membuat pernyataan baru yang lebih khusus.
Perlu diingat, pernyataan umum memiliki pengertian bahwa di dalam pernyataan itu memuat informasi yang berlaku pada semua anggota yang terdapat pada kelompok itu. Pernyataan umum tidak boleh berisi pernyataan yang hanya berlaku pada individu-individu. Sedangkan, pernyataan khusus memuat informasi yang hanya berlaku pada individu atau kelompok tertentu. Dan, pernyataan khusus harus memiliki hubungan dengan pernyataan umum.
Selain bisa disebut sebagai pernyataan umum, pernyataan yang berisi informasi secara umum ini juga bisa disebut premis umum atau juga premis mayor. Sedangkan, pernyataan khusus biasa disebut premis khusus atau premis minor. Dua pernyataan itu pada akhirnya ditutup dengan sebuah pernyataan yang merupakan perpaduan antara pernyataan umum (PU) dan pernyataan khusus (PK) yang merupakan sebuah kesimpulan (K).
Jika pernyataan-pernyataan itu dibuat semacam patokan, dapat digambarkan sebagai berikut:
Jika PU = A + B
PK = C + A
Maka K = C + B
Perumusan PK tidak harus selalu C + A; bisa juga C + B. Tetapi, tidak boleh C + D.
Mengapa? Jika PK = C + D, itu berarti PK tidak memiliki hubungan dengan PU.
Satu hal yang perlu dipahami, mengapa PU atau PK atau pun K berbentuk seperti itu? Pada hakikatnya setiap pernyataan itu harus terdiri dua informasi, baik berupa kalimat tunggal maupun kalimat majemuk.
Perumusan PK tidak harus selalu C + A; bisa juga C + B. Tetapi, tidak boleh C + D.
Mengapa? Jika PK = C + D, itu berarti PK tidak memiliki hubungan dengan PU.
Satu hal yang perlu dipahami, mengapa PU atau PK atau pun K berbentuk seperti itu? Pada hakikatnya setiap pernyataan itu harus terdiri dua informasi, baik berupa kalimat tunggal maupun kalimat majemuk.
Contoh berikut bisa memperjelas gambaran tersebut!
PU = Untuk mencapai cita-cita, manusia harus berusaha sekuat tenaga.
PK = Aku ingin mencapai cita-citaku.
K = Aku harus berusaha sekuat tenaga.
Contoh itu bisa disebut sebagai penyampaian ide, tetapi bentuk yang digunakan bukan
bentuk yang akan kita pelajari, yaitu berbentuk paragraf. Kita akan mencoba
mengembangkan ide model seperti itu dalam bentuk paragraf bukan dalam bentuk rincian
seperti itu.
Namun, sebelum kita berbicara jauh tentang model pengembangan paragraf ini, perlu juga
kita pahami bahwa wujud informasi pada silogisme ada yang benar ada yang salah
sehingga akan disebut silogisme salah (untuk yang salah) dan silogisme benar (untuk yang
benar).
Ukuran benar atau salah yang digunakan adalah jika isi silogisme itu masih bisa
dipertanyakan kebenarannya, berarti silogisme itu digolongkan ke dalam silogisme salah.
Sebaliknya, jika isi silogisme itu tidak dapat dipertanyakan lagi, karena memiliki kemutlakan,
silogisme itu digolongkan silogisme benar.
Misal:
PU = Pada umumnya para petani memiliki alat-alat pertanian sendiri untuk mengolah
dan memelihara tanaman yang ditanamnya.
PK = Pak Ali seorang petani yang mengerjakan lahan pertanian sendiri.
K = Pak Ali memiliki alat-alat pertanian sendiri untuk mengolah dan memelihara
tanaman yang ditanamnya.
Informasi yang terdapat pada contoh silogisme itu memiliki kebenaran mutlakkah sehingga
contoh itu harus disebut silogisme benar? Atau, justru sebaliknya? Untuk menjawab
perntanyaan-pertanyaan itu, perlu pemahaman lebih mendalam dan juga perlu dikaitkan
dengan realita sebenarnya.
contoh itu harus disebut silogisme benar? Atau, justru sebaliknya? Untuk menjawab
perntanyaan-pertanyaan itu, perlu pemahaman lebih mendalam dan juga perlu dikaitkan
dengan realita sebenarnya.
Silogisme dapat dibedakan menjadi:
1) silogisme kategorial;
2) silogisme tersusun.
1. Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris.
Misal:
PU = Semua mamalia adalah binatang yang melahirkan dan menyusui anaknya.
PK = Kerbau termasuk mamalia.
K = Jadi, kerbau merupakan binatang yang melahirkan dan menyusui anaknya.
Yang perlu dicermati adalah, bahwa pola penalaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari kita tidak demikian nampak, entah di realita pembicaraan sehari-hari, lewat surat kabar, majalah, radio, televisi, dan lain-lain. Oleh sebab itu, dalam menyimak atau mendengarkan atau menerima pendapat seseorang, kita perlu berpikir kritis melihat dasar-dasar pemikiran yang digunakan sehingga kita dapat menilai seberapa tingkat kualitas kesahihan pendapat itu.
Dalam hal seperti ini kita perlu menentukan:
Yang perlu dicermati adalah, bahwa pola penalaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari kita tidak demikian nampak, entah di realita pembicaraan sehari-hari, lewat surat kabar, majalah, radio, televisi, dan lain-lain. Oleh sebab itu, dalam menyimak atau mendengarkan atau menerima pendapat seseorang, kita perlu berpikir kritis melihat dasar-dasar pemikiran yang digunakan sehingga kita dapat menilai seberapa tingkat kualitas kesahihan pendapat itu.
Dalam hal seperti ini kita perlu menentukan:
1) kesimpulan apa yang disampaikan;
2) mencari dasar-dasar atau alasan yang dikemukakan sebagai premis-premisnya; dan 3) menyusun ulang silogisme yang digunakannya;
4) kemudian melihat kesahihannya berdasarkan ketentuan hukum silogisme.
Berdasar hal tersebut tentu saja kita akan mampu melihat setiap argumen, pendapat, alasan, atau gagasan yang kita baca atau dengar. Dengan demikian, secara kritis kita mengembangkan sikap berpikir ke arah yang cerdik, pintar, arif, dan tidak menerima begitu saja kebenaran/opini yang dikemukakan pihak lain. Berdasarkan hal inilah akhirnya kita mampu menerima, meluruskan, menyanggah, atau menolak suatu pendapat yang kita terima.
2. Silogisme Tersusun
Dalam praktik kehidupan sehari-hari bentuk dilogisme kategorial sering tidak diikuti sebagaimana mestinya, melainkan diambil jalan pintas demi lancar dan cepatnya komunikasi antarpihak. Berikut bentuk-bentuk yang dimaksud, yang sebenarnya merupakan perluasan atau penyingkatan silogisme kategorial. Silogisme ini dapat dibedakan dalam tiga golongan: 1) epikherema; 2) entimem; dan 3) sorites.
2.1 Epikherema
Epikherema merupakan jabaran dari silogisme kategorial yang diperluas
Dalam praktik kehidupan sehari-hari bentuk dilogisme kategorial sering tidak diikuti sebagaimana mestinya, melainkan diambil jalan pintas demi lancar dan cepatnya komunikasi antarpihak. Berikut bentuk-bentuk yang dimaksud, yang sebenarnya merupakan perluasan atau penyingkatan silogisme kategorial. Silogisme ini dapat dibedakan dalam tiga golongan: 1) epikherema; 2) entimem; dan 3) sorites.
2.1 Epikherema
Epikherema merupakan jabaran dari silogisme kategorial yang diperluas
dengan jalan memperluas salah satu premisnya atau keduanya. Cara yang biasa
digunakan adalah dengan menambahkan keterangan sebab: penjelasan sebab
terjadinya, keterangan waktu, maupun poembuktian keberadaannya. Perhatikan
contoh berikut:
PU = Semua pahlawan bersifat mulia sebab mereka selalu memperjuangkan hak
miliki bersama dengan menomorduakan kepentingan pribadinya.
PK = Sultan Mahmud Badaruddin adalah pahlawan.
K = Jadi, Sultan Mahmud Badaruddin itu mulia.
PU = Semua orang nasionalis adalah pejuang sebab mereka senantiasa bekerja
tanpa kehendak serta tidak menghalalkan segala cara. Di dalamnya, setiap
kegiatan dan keterlibatan mereka yakini bahwa Tuhan juga terlibat. Itulah
sebabnya mereka menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan , keadilan,
kebersamaan, dan keberbedaan.
PK = Bung Tomo adalah seorang nasionalis.
K = Maka, Bung Tomo seorang pejuang sejati.
Dari kedua contoh itu terlihat bahwa ada bagian (premis) tertentu yang
Dari kedua contoh itu terlihat bahwa ada bagian (premis) tertentu yang
diperluas dengan menambahkan keterangan, alasan, bukti, dan penjelasan
sebagai pelengkap premis mayor. Pola silogistisnya tetap. Hanya saja jumlah
keterangan atau atribut yang memperkuat tak terbatas, asalkan memperkuat,
mempertegas, dan memperjelas premisnya. Perhatikan contoh berikut!
PU = Semua siswa yang rajin belajar dengan teratur, tekun, terencana, dan mempunyai sistem manajemen yang baik tentu akan berhasil dalam hidupnya di masa depan. Dalam klasifikasi seperti ini, mereka senantiasa mempersiapkan diri demi memahami dan mengerti ilmu yang dipelajarai, tidak pasti harus menunggu belajar karena ada ulangan. Belajar, bagi mereka, bukan sebatas tahu dan hafal, bukan untuk memperoleh angka yang dicapai dalam ulangan. Mereka belajar secara rutin sebagai bentuk tanggung jawab mereka menjawab tantangan masa depan dengan jalan memiliki jadwal pribadi yang tersusun tanpa paksaan dari siapa pun. Mereka belajar sampai tahap menganalisis urgensitas bidang studi, baik untuk hidup sekarang maupun yang akan datang. Bagi mereka tiada hari tanpa belajar, tiada hari tanpa prestasi, dan hal itu dijadikan sebagai pegangan hidup.
PK = Ardi adalah siswa yang selalu belajar dengan tekun, teratur, rapi, dan
terencana.
K = Maka, tentulah masa depan hidup Ardi pasti baik.
Bagaimana penilaianmu tentang kebenaran isi epikherema itu?
2.2 Entimem
Entimem merupakan bentuk singkat silogisme dengan jalan mengubah format
2.2 Entimem
Entimem merupakan bentuk singkat silogisme dengan jalan mengubah format
yang disederhanakan, tanpa menampilkan premis mayor. Bentuk silogisme ini bisa
dimunculkan dalam dua cara: 1) C=B karena C=A, dan 2) Karena C=A, berarti C=B.
Bentuk penalaran ini bisa dikembangkan dalam format yang lebih detail bagian per
bagian yang akan memperbanyak gagasan dan konsep. Hubungan logis
memegang peran utama dalam penalaran tipe ini. Pada umumnya entimem dimulai
dari kesimpulan, hanya saja ada alternatif mengemukakan sebab untuk sampai
kepada kesimpulan.
Contoh:
1. Imam memang siswa yang amat baik masa depannya sebab ia bersekolah di SMA
Contoh:
1. Imam memang siswa yang amat baik masa depannya sebab ia bersekolah di SMA
Bina Kerangka.
2. Orang itu pasti jagoan. Bukankah ia berasal dari Hollywood?
3. Temanku sebangku itu amat pintar. Ia memang dilahirkan dalam shio macan.
Bila kita cermati, ketiga contoh tersebut dapat dilacak rangkaian silogismenya. Setelah mengembalikan rangkaian silogismenya, kita lihat validitas-validitas premis, terutama premis mayor sebagai dasar bernalar, serta akurasi premis minornya, untuk menarik kesimpulan.
2.3 Sorites
Silogisme tipe ini sangat cocok untuk bentuk-bentuk tulisan atau pembicaraan yang bernuansa persuasif. Silogisme tipe ini didukung oleh lebih dari tiga premis, bergantung pada topik yang dikemukakan serta arah pembahasan yang dihubung-hubungkan demikian rupa sehingga predikat premis pertama menjadi subyek premis kedua, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis ketiga, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis keempat, dan seterusnya, hingga akhirnya sampailah pada kesimpulan yang diambil dari subyek premis pertama dan predikat premis terakhir.
Pola yang digunakan sebagai berikut:
S 1…………………………………………P 1
S2 …………………………………………P2
S3……………………….…………………P3, dst.
Kesimpulan: S1 ……………………………P3
2. Orang itu pasti jagoan. Bukankah ia berasal dari Hollywood?
3. Temanku sebangku itu amat pintar. Ia memang dilahirkan dalam shio macan.
Bila kita cermati, ketiga contoh tersebut dapat dilacak rangkaian silogismenya. Setelah mengembalikan rangkaian silogismenya, kita lihat validitas-validitas premis, terutama premis mayor sebagai dasar bernalar, serta akurasi premis minornya, untuk menarik kesimpulan.
2.3 Sorites
Silogisme tipe ini sangat cocok untuk bentuk-bentuk tulisan atau pembicaraan yang bernuansa persuasif. Silogisme tipe ini didukung oleh lebih dari tiga premis, bergantung pada topik yang dikemukakan serta arah pembahasan yang dihubung-hubungkan demikian rupa sehingga predikat premis pertama menjadi subyek premis kedua, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis ketiga, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis keempat, dan seterusnya, hingga akhirnya sampailah pada kesimpulan yang diambil dari subyek premis pertama dan predikat premis terakhir.
Pola yang digunakan sebagai berikut:
S 1…………………………………………P 1
S2 …………………………………………P2
S3……………………….…………………P3, dst.
Kesimpulan: S1 ……………………………P3
Contoh:
PU = Semua penduduk di kampung itu kehidupan mereka bergantung pada hasil
produk tangan mereka.
PU = Mereka menciptakan aneka ragam karya tangan.
PU = Karya-karya itu tidak terbatas kaum pria yang memproses, para ibu dan
semua remajanya tak tertinggalkan.
PU = Kelompok anak-anak pun juga memiliki ketrampilan seperti kerabatannya.
PK = Aku mempunyai seorang sahabat dari kampung itu. Ia biasa dipanggil Sofi. Ia
asli dilahirkan dari pasangan rumah tangga asli kampung itu.
K = Aku berkeyakinan ia pasti terampil membuat kerajinan seperti yang
diproduksi di kampungnya.
Model-model penuangan ide umum- khusus berbentuk paragraf
1) Pengembangan model silogisme
Pada pengembangan silogisme konvensional menjadi paragraf ada beberapa hal yang kita perhatikan :
1. Jenis silogisme apa yang akan kita kembangkan menjadi paragraf.
2. Jika jenis soligisme yang akan kita kembangan jenis kategoris dengan cara mengembangkan PU, PK, dan K silogisme itu menjadi lebih panjang. Dengan catatan, pengembangan itu harus tetap bersumber pada silogisme konvensionalnya.
3. Jika silogisme yang akan kita kembangkan menjadi paragraf itu silogisme epikherema, kita tinggal menghilangi tulisan “PU, PK, K” silogisme itu. Itu juga belaku untuk silogisme jenis sorites.
Cermati contoh berikut!
Semua penduduk di kampung itu kehidupan mereka bergantung pada hasil produk tangan mereka. Aneka ragam karya tangan yang mereka ciptakan. Tidak terbatas kaum pria yang memproses kerajinan itu, para ibu dan semua remajanya tak tertinggalkan. Kelompok anak-anak pun juga memiliki ketrampilan seperti kerabatannya. Aku mempunyai seorang sahabat dari kampung itu. Ia biasa dipanggil Sofi. Ia asli dilahirkan dari pasangan rumah tangga asli kampung itu. Aku berkeyakinan ia pasti terampil membuat kerajinan seperti yang diproduksi di kampungnya.
Jika kita cermati contoh itu, dapat dipastikan paragraf silogisme itu berasal dari:
PU : Semua penduduk asli kampung itu terampil membuat kerajinan tangan
mereka.
PK : Sofi asli dilahirkan pasangan rumah tangga asli kampung itu.
K : Sofi terampil membuat kerajinan tangan.
Contoh 1
Siapa pun pasti mengenal pulau yang sangat terkenal di Indonesia bahkan di tingkat dunia yang terletak di sebelah timur Pulau Jawa. Pulau itu biasa disebut Pulau Bali. Selain terkenal kesenian dan pemandangan alamnya, pulau itu juga terkenal dengan ritual keagaman yang dilakukan penduduk asli Bali, utamanya yang memeluk agama Hindu. Hampir tidak ada waktu yang tidak terlepas dari ritual keagamaannya. Semua aktivitas yang akan dilakukan selalu diawali dengan ritual yang sudah menjadi budaya agama yang dipeluknya. Temanku, I Made Kencana, adalah penduduk asli Pulau Dewata. Ibu dan bapaknya asli warga Bali. Mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat Bali. Begitu juga I Made. Dengan keadaan kehidupan seperti itu, banyak orang mengatakan I Made Kencana pasti beragama Hindu.
Pernyataan seperti itu belum memiliki kelogikaan mutlak. Mengapa? Kita harus menyadari bahwa perkembangan masyarakat yang ada di sana sekarang jauh lebih beragam dibandingkan dengan sekian puluh tahun lalu. Apalagi dengan dijamin undang-undang kebebasan memeluk agama, berarti keberagaman agama di Bali tidak bisa dihindari. Dengan demikian, walaupun penduduk asli Bali bukan merupakan jaminan bahwa penduduk asli Bali itu pasti beragama Hindu.
Ketidaklogisan pada contoh itu masih tampak sangat samar dan seakan memiliki tingkat keakuratan logika cukup tinggi. Untuk membuktikan, mari kita kontrol lewat kalimat terakhir, “Dengan keadaan kehidupan seperti itu, banyak orang mengatakan I Made Kencana pasti beragama Hindu”, pada contoh paragraf tersebut. Jika pernyataan itu kita tes dengan pertanyaan, “Pastikah I Made beragama Hindu? Jika jawaban yang muncul “pasti” berarti memang memiliki tingkat kelogikaan akurat, tetapi jika jawaban yang muncul “belum tentu”, tingkat kelogikaan pernyataan itu masih diragukan.
Pernyataan seperti itu belum memiliki kelogikaan mutlak. Mengapa? Kita harus menyadari bahwa perkembangan masyarakat yang ada di sana sekarang jauh lebih beragam dibandingkan dengan sekian puluh tahun lalu. Apalagi dengan dijamin undang-undang kebebasan memeluk agama, berarti keberagaman agama di Bali tidak bisa dihindari. Dengan demikian, walaupun penduduk asli Bali bukan merupakan jaminan bahwa penduduk asli Bali itu pasti beragama Hindu.
Ketidaklogisan pada contoh itu masih tampak sangat samar dan seakan memiliki tingkat keakuratan logika cukup tinggi. Untuk membuktikan, mari kita kontrol lewat kalimat terakhir, “Dengan keadaan kehidupan seperti itu, banyak orang mengatakan I Made Kencana pasti beragama Hindu”, pada contoh paragraf tersebut. Jika pernyataan itu kita tes dengan pertanyaan, “Pastikah I Made beragama Hindu? Jika jawaban yang muncul “pasti” berarti memang memiliki tingkat kelogikaan akurat, tetapi jika jawaban yang muncul “belum tentu”, tingkat kelogikaan pernyataan itu masih diragukan.
Sekarang mari kita cermati contoh berikut!
Contoh 2
Dengan perkembangan tingkat kesadaran beragama, utamanya pemeluk Islam, bukan hanya tingkat kesadaran rokhani yang ingin ditampakkan, tetapi merambah juga sampai ke tingkat cara berbusana. Tampaknya, tingkat perkembangan budaya pemakaian busana untuk menunjukkan tingkat kesadaran beragama (Islam) sudah berubah menjadi budaya. Sampai ada yang mengatakan, sekarang di sekolah-sekolah semua siswanya menggunakan jilbab. Tak terkecuali di sekolah Sri Kristiani. Kristiani adalah anak pindahan dari sekolah dari luar kota. Ia terpaksa pindah sekolah karena mengikuti kepindahan orang tuanya sebagai pejabat baru di kota ini. Itu berarti Sri Kristiani jika bersekolah memakai jilbab.
Pada contoh 2, ketidaklogikaan tampak lebih jelas dan memang sangat tidak logis. Mengapa? Kita pasti yakin sekolah yang dimaksud pada paragraf itu adalah sekolah umum. Di sana pasti terdiri siswa pria dan wanita. Akankah siswa pria menggunakan jilbab? Pastikah Sri Kristiani beragama Islam?
Itu menunjukkan bahwa ketidaklogikaan bisa terjadi mulai munculnya PU dan PK sehingga menjadikan informasi yang terdapat pada K tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Perhatikan sekali lagi contoh epikherema berikut!
PU = Semua siswa yang rajin belajar dengan teratur, tekun, terencana, dan mempunyai sistem manajemen yang baik tentu akan berhasil dalam hidupnya di masa depan. Dalam klasifikasi seperti ini, mereka senantiasa mempersiapkan diri demi memahami dan mengerti ilmu yang dipelajarai, tidak pasti harus menunggu belajar karena ada ulangan. Belajar, bagi mereka, bukan sebatas tahu dan hafal, bukan untuk memperoleh angka yang dicapai dalam ulangan. Mereka belajar secara rutin sebagai bentuk tanggung jawab mereka menjawab tantangan masa depan dengan jalan memiliki jadwal pribadi yang tersusun tanpa paksaan dari siapa pun. Mereka belajar sampai tahap menganalisis urgensitas bidang studi, baik untuk hidup sekarang maupun yang akan datang. Bagi mereka tiada hari tanpa belajar, tiada hari tanpa prestasi, dan hal itu dijadikan sebagai pegangan hidup.
PK = Ardi adalah siswa yang selalu belajar dengan tekun, teratur, rapi, dan
terencana.
K = Maka, tentulah masa depan hidup Ardi pasti baik.
Jika contoh itu kita ubah menjadi paragraf menjadi:
Semua siswa yang rajin belajar dengan teratur, tekun, terencana, dan mempunyai sistem manajemen yang baik tentu akan berhasil dalam hidupnya di masa depan. Dalam klasifikasi seperti ini, mereka senantiasa mempersiapkan diri demi memahami dan mengerti ilmu yang dipelajarai, tidak pasti harus menunggu belajar karena ada ulangan. Belajar, bagi mereka, bukan sebatas tahu dan hafal, bukan untuk memperoleh angka yang dicapai dalam ulangan. Mereka belajar secara rutin sebagai bentuk tanggung jawab mereka menjawab tantangan masa depan dengan jalan memiliki jadwal pribadi yang tersusun tanpa paksaan dari siapa pun. Mereka belajar sampai tahap menganalisis urgensitas bidang studi, baik untuk hidup sekarang maupun yang akan datang. Bagi mereka tiada hari tanpa belajar, tiada hari tanpa prestasi, dan hal itu dijadikan sebagai pegangan hidup. Ardi adalah siswa yang selalu belajar dengan tekun, teratur, rapi, dan terencana. Maka, tentulah masa depan hidup Ardi pasti baik.
2) Pengembangan model entimem
Entimem sebenarnya juga bentuk silogisme. Tetapi, silogisme yang terdapat pada entimem merupakan bentuk singkat silogisme itu sendiri. Artinya, jika silogisme yang sebenarnya harus menggunakan PU dan PK kemudian terwujud K, namun pada entimem langkah PU dan PK ditinggalkan dan langsung membentuk semacam kesimpulan isi informasi yang terdapat pada PU dan PK.
Ciri khas entimem di dalam isi informasinya harus mencakup dua hal, yaitu pernyataan inti dan pernyataan penjelas. Dan, setiap entimem harus dapat dikembalikan ke bentuk aslinya, yaitu silogisme.
Entimem sebenarnya juga bentuk silogisme. Tetapi, silogisme yang terdapat pada entimem merupakan bentuk singkat silogisme itu sendiri. Artinya, jika silogisme yang sebenarnya harus menggunakan PU dan PK kemudian terwujud K, namun pada entimem langkah PU dan PK ditinggalkan dan langsung membentuk semacam kesimpulan isi informasi yang terdapat pada PU dan PK.
Ciri khas entimem di dalam isi informasinya harus mencakup dua hal, yaitu pernyataan inti dan pernyataan penjelas. Dan, setiap entimem harus dapat dikembalikan ke bentuk aslinya, yaitu silogisme.
Perhatikan contoh paragraf berikut!
Tiada seorang pun yang menuntut ilmu tidak berkeinginan mendapat kesuksesan secara maksimal. Cita-cita seperti itu sudah menjadi target setiap manusia yang sedang menuntut ilmu. Untuk bisa mencapai kesuksesan seperti itu salah satu syarat yang dilakukan adalah rajin belajar secara disiplin. Rajin membaca buku dan mengikuti informasi-informasi terbaru berkait dengan pelajaran yang sedang ditekuni. Jika mungkin, harus ditunjang juga sarana pendukung yang cukup. Tampaknya, Evi adalah seorang pelajar yang mendambakan kesuksesan maksimal. Ia tampak setiap saat selalu bergelut dengan buku-buku pelajaran. Ada saja yang dibacanya untuk menambah pengetahuan untuk menunjang kesuksesannya itu. Ia benar-benar rajin belajar dan sangat disiplin waktu.
3) Pengembangan model biasa
Yang dimaksud pola biasa di sini adalah pola pengembangan paragraf itu tetap menggunakan umum-khusus, tetapi tidak terdapat PK. Pada paragraf itu sejak awal paragraf dijajarkan pernyataan yang bersifat umum atau berlaku secara umum sampai hampir mendekati akhir paragraf. Pada akhir paragraf disajikan semacam kesimpulan yang diambil dari pernyataan-pernyataan sebelumnya.Mari kita cermati contoh berikut!
Setiap perempuan di dalam dirinya selalu memiliki kesabaran. Apabila malam akan selalu menutup pintu-pintu rumah tempat tinggalnya. Ia dengan sabar masih saja menjaga anak-anaknya yang sedang tidur. Seorang perempuan pasti akan menangguhkan segala impian yang dulunya menjadi harapannya jika sudah menjadi ibu. Kemuliaan seorang ibu juga akan dengan rela memaafkan segala dosa dan kenakalan anak-anaknya sampai akhir zaman. Dengan segala ketulusan ia berusaha membasuh setiap niat buruk anak-anaknya. Perempuan itu ibuku.
Perlu sedikit penjelasan, paragraf model umum-khusus ini memang ada kemiripan dengan paragraf induksi. Hanya perlu dipahami, pada paragraf induksi akan diawali kalimat-kalimat penjelas yang secara khusus memberi penjelasan terhadap sesuatu yang akan diungkapkan pada kalimat utama. Sehingga, kalimat-kalimat penjelas itu hakikatnya sejajar dengan pernyataan-pernyataan khusus. Dan, kalimat utama yang terletak pada akhir paragraf merupakan pernyataan umum. Karena itu dapat dikatakan bahwa pola yang dianut pada paragraf induksi adalah pola khusus-umum. Lain halnya dengan pada pola umum-khusus pada pembahasan ini. Pernyataan pada awal sampai dengan mendekatai akhir paragraf berupa pernyataan umum dan bisa berlaku secara umum. Lalu, diakhiri dengan semacam kesimpulan yang memberi informasi secara khusus atau spesifik.
Apalagi, pola ini disamakan dengan pola paragraf deduksi yang juga menggunakan pola umum-khusus sangat tidak mungkin karena pola pengembangannya sangat berbeda. Hanya mirip pola.
Yang dimaksud pola biasa di sini adalah pola pengembangan paragraf itu tetap menggunakan umum-khusus, tetapi tidak terdapat PK. Pada paragraf itu sejak awal paragraf dijajarkan pernyataan yang bersifat umum atau berlaku secara umum sampai hampir mendekati akhir paragraf. Pada akhir paragraf disajikan semacam kesimpulan yang diambil dari pernyataan-pernyataan sebelumnya.Mari kita cermati contoh berikut!
Setiap perempuan di dalam dirinya selalu memiliki kesabaran. Apabila malam akan selalu menutup pintu-pintu rumah tempat tinggalnya. Ia dengan sabar masih saja menjaga anak-anaknya yang sedang tidur. Seorang perempuan pasti akan menangguhkan segala impian yang dulunya menjadi harapannya jika sudah menjadi ibu. Kemuliaan seorang ibu juga akan dengan rela memaafkan segala dosa dan kenakalan anak-anaknya sampai akhir zaman. Dengan segala ketulusan ia berusaha membasuh setiap niat buruk anak-anaknya. Perempuan itu ibuku.
Perlu sedikit penjelasan, paragraf model umum-khusus ini memang ada kemiripan dengan paragraf induksi. Hanya perlu dipahami, pada paragraf induksi akan diawali kalimat-kalimat penjelas yang secara khusus memberi penjelasan terhadap sesuatu yang akan diungkapkan pada kalimat utama. Sehingga, kalimat-kalimat penjelas itu hakikatnya sejajar dengan pernyataan-pernyataan khusus. Dan, kalimat utama yang terletak pada akhir paragraf merupakan pernyataan umum. Karena itu dapat dikatakan bahwa pola yang dianut pada paragraf induksi adalah pola khusus-umum. Lain halnya dengan pada pola umum-khusus pada pembahasan ini. Pernyataan pada awal sampai dengan mendekatai akhir paragraf berupa pernyataan umum dan bisa berlaku secara umum. Lalu, diakhiri dengan semacam kesimpulan yang memberi informasi secara khusus atau spesifik.
Apalagi, pola ini disamakan dengan pola paragraf deduksi yang juga menggunakan pola umum-khusus sangat tidak mungkin karena pola pengembangannya sangat berbeda. Hanya mirip pola.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar