Powered By Blogger

Jumat, 25 Maret 2011

Be x Do = G?

Sekarang, dan kapan pun merupakan era kualitas. Apa pun yang dilakukan manusia, apa pun profesi yang dilakoni atau pun usaha, harus didasari visi dan misi yang berorientasi pada kualitas. Oleh karena itu, banyak para ahli mengatakan era sekarang ini adalah era kualitas. Orientasi seperti itu bisa diberlakukan tidak hanya di wilayah perusahaan, tetapi bisa diberlakukan di segala kegiatan seperti dunia pendidikan, dunia individu.

Dilihat dari sejarah terjadinya Be x Do = G adalah dari dunia usaha. Perusahaan-perusahaan baik bertaraf lokal, regional, nasional, apalagi yang bertaraf, internasional sangat gencar menerapkan rumus itu. Sebab, dengan cara itu mereka akan memperoleh "G" yang sejati, "G" yang sangat didambakan oleh produsen maupun konsumen.

Dan, tidaklah mengherankan jika di era sekarang banyak perusahaan, lembaga, badan, atau apa pun namanya berlomba mendapatkan pengakuan masyarakat, mendapat kepercayaan masyarakat memperoleh atau pun "mencari" sertifikat yang berisi pengakuan terhadap manajemen kinerja perusahaan, lembaga, badan, atau orang yang bersangkutan.

Sudakah akan memperoleh "G" yang sebenarnya denga telah diperolehnya sertifikat kualifikasi seperti itu? Jawaban paling sederhana adalah bisa sudah, bisa belum. Mengapa? Itu dikarenakan untuk memperoleh "G" masih memerlukan jalan terjal dan berliku. Apa itu? "G" secara maksimal akan dapat dicapai harus diolah dengan "Be x Do" secara benar.

Mungkin agak penasaran, apa sebenarnya huruf-huruf itu? Tigga huruf itu merupakan kependekan dari kata-kata bahasa Inggeris. Be=behavior, Do=do, G=goal. Oleh karena itu, pertanyaannya selalukah Be x Do = G? Jawabannya belum tentu.

Bisakah rumus itu diterapkan di dunia pendidikan sebagai lembaga umumnya atau pun guru pada khususnya? Sangat-sangat bisa. Rumus itu pada hakikatnya merupakan gambaran kinerja yang harus dilalui dan dilakukan. Karena itu, sekali lagi, "G" yang sejati tidak akan bisa dicapai jika tidak melalui dan melakukan "Be x Do" secara baik dan benar.

Misal, jika rumus itu diterapkan pada guru. Sekarang, banyak guru melanjutkan ke tingkat pendidikan setinhgkat lebih tinggi dari tingkat pendidikan yang telah dimiliki. Lebih-lebih, di sekolah yang mengarah ke "bertaraf internasional" tingkat pendidikan seperti itu merupakan suatu kewajiban. Untuk apa? Untuk memperoleh sertikat kualifikasi pendidikan. Untuk apa? Untuk memenuhi persyaratan manajemen mutu.

Pertanyaannya, jika seorang guru telah memiliki sertifikat kualifikasi, S2 atau S3 misalnya, sudakah merupakan jaminan bisa mencapai "G"? Untuk menjawab pertanyaan itu ada beberapa indikator yang bisa digunakan sebagai pertimbangan. Antara lain:
1. Bagaimana cara memperoleh sertifikat itu.
2. Bagaimana penilaian subjek didik terhadap guru bersangkutan setelah memperoleh sertifikat barunya?
3. Adakah perkembangan strategi pembelajaran?
4. Adakah perkembangan perluasan titik pandang terhadap materi ajar yang diajarkan kepada subjek didik?
5. Terjadikah kepuasan pada diri subjek didik dengan PBM yang dilakukan guru bersangkutan?
6. Dan, masih banyak lagi indikator lain.

Apakah ukuran "G" bisa dikatakan berhasil? Kunci keberhasilan itu hanya satu, yaitu kepuasan pelanggan. Siapa pelanggan guru? Pelanggan bisa internal bisa eksternal.

Pelanggan internal tidak lain adalah guru itu sendiri, nurani guru itu sendiri. Tetapi, kepuasan guru tidak bisa digunakan sebagai dasar menentukan keberhasial pencapaian "G". Penentuan keberhasilan hguru mencapai "G" justru harus didasarkan pada kepuasan pelanggan. Dan, kepuasan pelanggan bukan dilihat pada angka-angka yang diperoleh siswa. Tetapi parameternya adalah seberapa tinggi pemahaman siswa terhadap materi-materi yang diajarkan guru bersangkuitan.

Bilakah "G" maksimal dapat tercapai? Itu sangat bergantung pada bagaimana "B" dan "D" dikelola guru bersangkutan. Sebab, bagaimana pun dan setinggi apa pun sertifikat kualifikasi telah dimiliki, tetapi, jika pola pikir, sikap, cara pandang (behavior) dan etos kerja, strategi KBM, teknik mengajar, alat ajar yang digunakan (Do) tidak dikelola dengan baik, "G" sebagai gambaran kepuasan pelanggan tidak akan dapat tercapai. Semuanya sangat bergantung pada "Top Manager". Siapa top manager pribadi guru? Ia adalah hati nurani. Ia adalah sikap mental. Ia adalah eticut. Jika itu tidak ada keberanian dan kemauan untuk melakukan perubahan "behavior", sangat sulit untuk mencapai "G".

Bagaimana dengan "Do"? "Do" hakikatnya adalah etos kerja. Walau etos kerja tinggi, tanpa dibarengi perubahan "behavior", ketercapaian "G" hanya sebatas ilusi. Sebaliknya, sudah terjadi perubahan "B", tetapi tanpa "D" yang barvariasi, ketercapaian "G" masih sebatas fatamorgana.

Oleh karena itu, untuk mencapai kepuasan pelanggan, rumus itu seharusnya menjadi (Be+) x (Do+) -> G+.

Jika guru telah melaksanakan cara-cara itu, akankah tercapai "G" secara maksimal di lembaga pendidikan itu? Bagaimana pun guru tidak dapat berdiri sendiri. Di dunia pendidikan paling tidak terdapat tiga lapisan utama untuk bisa mencapai "G" secara maksimal, yaitu sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan, guru sebagai pelaksana PBM, dan siswa sebagai lapisan yang akan diproses untuk mengasilkan produk berkualitas. Lapisan masih banyak, salah satunya adalah bidang administrasi sekolah yang dikelola di bagian tata usaha.

Untuk lembaga penyelenggara pendidikan, penerapan "Be x Do = G", lebih-lebih sekolah yang berlabel RSBI, rumus itu merupakan fardu 'ain. Sertifikat ISO yang sudah dipegang bukan sebuah jaminan pasti menghasilkan "G" yang diharapkan pelanggan jika "Be" dan "Do" pelaksanaannya masih begitu-begitu juga. Padahal, dengan RSBI diharapkan menghasilkan produk berkualitas.

Manajemen mutu yang telah dirancang dan telah mendapat persetujuan dari pihak yang berwenang mengeluarkan sertifikat harus ditindaklanjuti dengan implementasinya. Di sinilah peran "Top Manager" akan tampak jelas. Top manager harus melakukan revolusi dari manajemen konvensional menjadi manajemen bertaraf internasional. Keberhasilan pencapaian "G" di lembaga pendidikan 50% berada di tangan top manager. Selebihnya, 30% di tangan guru, 15% di tangan siswa, selebihnya untuk komponen yang lain.

Melihat prosentase seperti itu, berarti top manager merupakan nahkoda, merupakan pilot kapal terbang. Jika demikian, top manajer harus memiliki kemampuan dan keberanian mengambil kebijakan dan keputusan yang mengarah ketercapaian "G" yang sebenarnya. Itulah hakikat "Be" dan "Do" di sekolah sebagai lembaga. Walau etos kerja luar biasa, tetapi "Be" tak tersentuh perubahan, tak ada harapan yang dapat diharapkan kecuali tinggal harapan.

Bagaimana dengan siswa? Pada hakikatnya sama. Etos belajar siswa harus nmenyesuaikan dengan rumus "Be x Do = G". Lebih-lebih yang berkait dengan "Be". Untuk bisa seperti itu, lembaga bersangkutan dan guru memegang peran penting memberi arahan kepada para siswa agar "Be" siswa berubah ke arah yang lebih positif. Tetapi, juga jangan dilupakan "Do" siswa.

"Goal" akan tercapai dengan nilai maksimal perlu adanya revolusi secara frontal terhadap "behavior" dan "do" masing-masing individu yang terlibat langsung atau pun tidak langsung terhadap pencapaian "goal".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar