Jika kita cermat melihat apa yang sering terjadi di lingkungan sekitar kita, termasuk di lingkungan para siswa, dan mungkin juga guru, masih banyak terjadi kebingunan membedakan antara adjektif (sering disebut kata sifat) dengan kata yang seharusnya tidak sewajarnya disebut kata sifat.
Pertanyaan yang segera muncul adalah, mengapa demikian? Itu semua tidak bisa terlepas dari sejarah pembelajaran yang pernah diterima para siswa dan juga bisa tidak terlepas dari dasar-dasar yang dimiliki guru yang mengajarkan materi itu kepada para siswa. Atau, mungkin juga, guru hanya menggunakan satu referensi yang dianggapnya bisa diterima oleh siapa pun tanpa mau membandingkan dengan pendapat-pendapat lain yang bisa dipertanggungjawabkan.
Memang ada teori yang diprakarsai oleh Prof. Dr. Gorys Kerraf tentang penentuan jenis kata sifat. Teori yang dikemukankan sebagai berikut:
Jenis kata sifat diberi ciri sebagai bentikut :
1) bentuk
Segala kata sifat dapat dibentuk dengan se- + reduplikasi kata dasar + -nya.
Misal :
tinggi setinggi-tingginya
marah semarah-marahnya
bersih sebersih-bersihnya
kotor sekotor-kotornya
baik sebaik-baiknya
cepat secepat-cepatnya
2) kelompok kata
Segala kata yang sudah dicalonkan menjadi kata sifat harus dapat diperluas menggunakan kata lebih, paling, sekali.
Misal :
tinggi tinggi sekali paling tinggi lebih tinggi
marah marah sekali paling marah lebih marah
bersih bersih sekali paling bersih lebih bersih
kotor kotor sekali paling kotor lebih kotor
baik baik sekali paling baik lebih baik
Berdasar teori yang dikemukakan, Gorys Keraf memberi batasan kata sifat sebagai berikut:
segala kata yang dapat mengambil bentuk se- + reduplikasi + -nya serta dapat diperluas dengan : paling,
lebih, sekali adalah kata sifat.
Teori ini lebih banyak digunakan untuk memberi pemahaman tentang kata sifat kepada para siswa sehingga bagaimana pun akan menghasilkan generasi baru yang selalu berkutat dengan dengan teori tersebut. Sehingga, jika terdapat kalimat sebagai berikut: Aku baru membeli baju kemarin. Tetapi, isteriku cemburu. Ia merasa kurang aku sayang, kemudian jika para siswa atau siapa pun, mungkin, ditanya "kata bercetak tebal pada kalimat itu termasuk jenis kata apa", mungkin, jawaban yang dapat dipastikan adalah jenis kata sifat.
Pertanyaannya menjadi, benarkah demikian yang harus dikatakan mereka? Jika jawaban mereka seperti itu, jelas-jelas "kurang bisa diterima". Lalu, siapakah sumber yang menjadikan "kurang bisa diterima" itu? Jawaban paling mudah adalah kesalahan teori yang digunakan. Jika menggunakan teori Gorys Kerraf (GK), memang empat kata itu bisa diterapi dengan teori yang diajukan itu. Tetapi, benarkah kata "baru" pada kalimat itu kata sifat? Berdasar habitanya, kata "baru" memang termasuk kata sifat, tetapi pada kalimat itu benarkah tetap berjenis kata sifat? Begitu juga kata "cemburu" dan kata "sayang" tidak bisa dilihat dari sisi kulit kata itu semata, tetapi yang lebih utama yang harus dipertimbangkan adalah desah nafas kedua kata itu. Jika desah nafas kedua kata itu tidak sama dengan desah nafas kata sifat, sudah seharusnya tidak disebut kata sifat.
Teori lain yang sekiranya dapat memberi jawaban jalan keluar terhadap pertanyaan "benarkah kata baru pada kalimat tadi bukan berjenis kata sifat" adalah teori yang dikemukakan oleh Prof. Drs. Wojowasito (alm). Teori yang dikemukakan adalah teori struktural. Dengan kata lain, untuk jenis kata, penjenisan kata tidak semata-mata bisa langsung ditentukan begitu saja jika suatu kata termasuk jenis kata tertentu, pada kondisi berbeda tetap berjenis kata tertentu itu pula. Oleh karena itu, dikemukakan tahapan teori sebagai beikut:
Pembagian jenis kata teori struktural menggunakan dasar :
A. berdasar fungsi jika kata yang akan ditentukan jenis katanya itu digunakan dalam suatu struktur kalimat.
Maksudnya dalam kalimat itu kata tersebut menduduki jabatan apa. Jabatan kalimat menurut teori struktural dapat mentransposisi suatu jenis kata menjadi jenis kata lain. Jabatan kalimat memiliki kemampuan besar mentransposisi jenis kata. Tetapi, untuk predikat sangat improduktif mentransposisi.
Misal :
Putih melambangkan kesucian. Kata putih menduduki sebagai subjek. Oleh karena ciri subjek selalu diisi kata benda atau yang dibendakan maka kata putih merupakan kata yang bernilai kata benda. Begitu juga kalau kata putih itu menduduki sebagai objek.
Untuk jabatan predikat sangat improduktif karena tidak semua kata yang menduduki predikat akan berubah jenis. Ada persyaratan sangat ketat yang harus dipenuhi untuk bisa mengubah jenis kata tertentu jika menduduki jabatan predikat. Persyaratan itu adalah:
1. kalimat yang digunakan harus kalimat pasif.
2. kalimat pasif yang digunakan harus kalimat pasif persona (tidak sembarang kalimat pasif)
Misal:
a. Aku sabit rumput di depan rumahku.
b. Kamu telepon Adik?
Kata "sabit" dan "telepon" pada kalimat itu tidak bisa disebut berjenis kata benda walau berasal dari kata benda. Dua kata itu harus disebut berjenis kata kerja. Mengapa demikian?
1. setiap kalimat pasif selalu berpredikat kata kerja.
2. kedua kalimat itu termasuk kalimat pasif persona.
3. kalimat pasif persona selalu dapat ditransformasi menjadi kalimat aktif.
Jika dua kalimat itu ditransformasi menjadi kalimat aktif akan menjadi:
a.1 Aku menyabit rumput di depan rumahku.
b.1 Kamu menelepon Adik?
B. berdasar morfologi jika kata itu berdiri sendiri dan berupa kata jadian. Artinya untuk menentukan jenis
kata suatu kata jadian harus ditentukan berdasar proses morfologis yang membentuknya.
C. berdasar semantis jika kata itu berdiri sendiri dan berbentuk kata dasar. Misal kata putih. Kata itu bila
berdiri sendiri, yang tidak berkait dengan sintaksis, termasuk jenis kata sifat, karena kata itu menyatakan
makna sifat suatu warna.
Menurut Prof. Drs. S. Woyowasito, pelopor struktural Indonesia, penekanan utama tiga dasar penjenisan kata itu pada fungsi kata itu dalam kalimat di samping memperhitungkan makna. Berdasar teori itu Wojowasito menentukan jenis kata berdasar ciri-ciri sintaksis setiap jenis kata itu. Untuk kata sifat secara struktural diberi ciri sebagai berikut:
1) lazim mengikuti kata benda sebagai penjelas
2) dapat dimasukkan imbangan perbandingan dengan menyertakan kata: paling, lebih
3) tidak dapat digunakan untuk perintah
4) tidak dapat didahului kata : hendak, sedang
Kembali pada contoh pertama, jika empat kata itu diterapi teori GK, semua kata itu akan masuk ke jenis kata sifat.
Namun demkian, masih juga menyisakan pertanyaan, benarkah seperti itu. Jika hanya mengandalkan teori GK, memang tidak ada jawaban lain selain itu. Tetapi, kita harus selalu ingat “masih banyak jalan menuju Roma”. Jika empat kata itu memang desah nafas yang dihembuskan desah nafas kata sifat, seratus persen harus diterima sebagai kata sifat. Namun, jika di antara empat kata itu ada yang menghembuskan nafas tidak seperti kata sifat, harus dimaklumi itu bukan kata sifat. Atau, kata itu memang berasal dari kata sifat, tetapi telah berpindah lingkungan dan berganti KTP sesuai dengan lingkungan yang ditempati, secara hukum kata itu tidak boleh lagi diakui sebagai warga kata sifat. Oleh karena itu, penentuan suatu jenis kata tidak bisa hanya ditentukan karena baju yang digunakan seperti yang dicirikan GK, tetapi harus dilihat ciri-ciri biologis kata itu. Itu bisa digambarkan seperti jika melihat seorang lelaki yang berbusana, berias, dan bertingkah seperti wanita, dan kecantikannya berada di atas rata-rata kecantikan wanita, bukan berarti dia harus dimasukkan ke kelompok jenis kelamin wanita. Untuk memahami bagaimana seharusnya adjektif itu harus disikapi sebagaimana mestinya, sebelumnya harus dipahami lebih dahulu kata-kata yang memiliki kemiripan dengan adjektif, yaitu kata kerja yang memiliki wujud mirip kata sifat. Ini sangat perlu agar tidak sampai terjadi pengacauan penyebutan yang seharusnya disebut kata kerja disebut kata sifat atau adjektif.
Pertama: hakikat kata kerja
Banyak orang, termasuk di dalamnya siswa dan guru, jika ditanya apakah kata kerja itu? Ternyata jawaban yang dimajukan belum mencakup secara utuh pengertian kata kerja itu sendiri. Itu bisa dilacak dari jawaban terhadap pertanyaan, manakah di antara kata berikut ( cemburu, gelisah, jengkel, makan, tidur, melamun) yang termasuk kata kerja? Kebiasaan jawaban yang biasa disampaikan adalah tiga kata pertama disebut kata sifat dan tiga kata terakhir disebut kata kerja.
Pertanyaan yang segera muncul bagi yang telah memahami hakikat kata kerja adalah "benarkah seperti itu?" Mereka tidak akan berpendapat seperti itu. Mereka akan mengatakan semua kata itu termasuk jenis kata kerja. Mengapa demikian? Karena kata kerja pada hakikatnya adalah semua kata yang menyatakan/menggambarkan aktivitas. Tetapi, aktivitas itu tidak dapat hanya diartikan secara sempit. Wujud aktivitas dalam diri manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu aktivitas lahiriyah dan aktivitas batiniyah. Aktivitas lahiriyah, yaitu aktivitas yang kemungkinannya dapat dilihat, atau dapat didengarkan. Misal, "Ia sedang memilih baju yang akan digunakan". Aktivitas "memilih" pada aktivitas yang dilakukan si ia dapat diindra oleh siapa pun. Atau, "Ia sedang mengucapkan sesuatu". Aktivitas "mengucapkan" memang tidak bisa dilihat, tetapi dapat didengarkan. Oleh karena itu, aktivitas seperti itu termasuk wujud aktivitas lahiriyah. Sedangkan, aktivitas batiniyah adalah aktivitas yang tidak dapat dilihat ataupun didengar, tetapi akibat atau pengaruh dari aktivitas itu bisa tampak secara lahiriyah. Misal, kata cemburu, gelisah, jengkel. Secara lahir aktivitas yang dilakukan tidak dapat diamati, tidak dapat didengar, tetapi akibat dari aktivitas itu sangat tampak jelas dari perubahan air muka, gerak-gerik yang dilakukan, tutur kata yang diucapkan, dan lain-lain.
Sekali lagi, pemakai bahasa Indonesia harus benar-benar cermat membedakan kata kerja yang memiliki kemiripan wujud dengan jenis kata sifat. Kuncinya hanya satu, yaitu memahami secara benar hakikat kata kerja dan wujud aktivitas kata kerja.
Kata-kata kerja yang memiliki kemiripan wujud seperti kata sifat biasa disebut kata kerja adjektif. Daftar kata berikut dapat membantu pemahaman kata kerja adjektif:
adil, akrab, aktif, angkuh, antipati, asing, asyik, awas, bahagia, bangga, benci, bengis, berang, berani, bijak, bimbang, bingung, bohong, boros, bosan, canggung, cekatan, cemas, cemberut, cemburu, cenderung, cepat, curang, cerdas, cerdik, cermat, ceroboh, cinta, condong, congkak, curiga, dahaga, damba, dendam, dengki, diam, durhaka, enggan, fanatik, fasih, ganas, garang, geli, gelisah, gemar, gemas, gembira, gentar, geram, giat, gila, girang, gugup, gundah, gusar, haus, hemat, heran, hormat, iba, ikhlas, ingat, insaf, tolol, iri, iseng, jahat, jahil, jemu, jengkel, jera, jijik, judes, jujur, kaget, kagum, kebal, kecewa, kejam, keji, keliru, keranjingan, kesal, kikir, kikuk, kolot, kritis, kuat, kuatir, labil, lalai, lalim, lamban, lambat, lancang, lancar, lantang, lapar, lata, lega, lelah, lemas, lembut, lengah, linglung, loba, loyo, lupa, luwes, mabuk, mafhum, mahir, wawas, maju, maklum, malas, malu, mampu, manja, marah, masygul, melempem, mesra, muak, mundur, muram, murka, murtat, nakal, nekat, netral, ngeri, ngilu, paham, pandai, panik, pasif, pasrah, patuh, payah, peka, pelit, percaya, pilu, pintar, pongah, prihatin, puas, pusing, ramah, rapi, rela, riang, ribut, rindu, risau, royal, rukun, sabar, sakit, sanggup, sangsi, sayang, sebal, sedih, segan, segar, sehat, sembrono, senang, serakah, serius, setia, setuju, siap, sibuk, silap, sombong, sopan, sosial, suka, sukar, susah, taat, tabah, tahu, waspada, takluk, takut, taqwa, tamak, tangguh, tangkas, tegar, tegas, teguh, tekun, teliti, tenang, teramp
(Sumber data : Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, dengan beberapa penyesuaian)
CATATAN:
Ada beberapa kata pada daftar kata itu yang memerlukan kecermatan dan kearifan. Artinya kata-kata tersebut walau sudah termasuk dalam daftar kata kerja adjektif, tetapi pada kesempatan lain kata-kata itu bisa saja berubah jenis menjadi kata sifat. Misal, kata: lamban, lancar, melempem, tenang, dan masih ada beberapa lagi. Kata-kata tersebut bisa mengalami transposisi karena fungsi yang dimasuki memungkinkan menjadikan kata kerja adjektif itu (lamban, lancar, malang, melempem, tenang) berubah jenis menjadi kata adjektif/kata sifat. Misal, jika digunakan pada kalimat:
a. Lalu lintas di jalan raya itu berjalan lamban.
b. Air di sungai itu tidak dapar mengalir lancar.
c. Kerupuk itu telah melempem.
d. Ia berjalan tenang sekali.
Bandingkan, jika digunakan pada kalimat berikut:
e. Ia lamban menerima pelajaran baru.
f. Jika pikiranmu lancar, pasti mudah menerima pelajaran ini.
g. Pikiran melempem, mengapa kamu pakai?
h. Hatiku tenang menghadapi kamu.
Kedua: hakikat kata sifat
Untuk memahami hakikat kata sifat, contoh kalimat berikut diharapkan dapat membantu.
a. Setiap pagi Ibu menyediakan teh manis untuk keluarga.
b. Jamu pahit dapat digunakan mengobati penyakit tertentu.
c. Sepeda rusak jangan kamu pakai!
d. Kamu harus menggunakan baju bersih.
e. Ia mendapat nilai bagus pada ujian terakhirnya.
f. Hati baik susah dicari.
Pemakaian kata-kata bercetak tebal pada keenam kalimat itu dapat dianalisis sebagai berikut :
a. Kata manis dan pahit pada kalimat a dan b menyatakan semantis ‘sifat’.
b. Kata bersih dan rusak pada kalimat c dan d menyatakan semantis ‘keadaan’
c. Kata bagus dan baik menyatakan semantis ‘kualitas’.
Berdasar kenyataan itu, maka suatu kata dapat dikatakan pada hakikatnya suatu kata dapat disebut sebagai kata sifat jika kata itu :
a. menyatakan sifat sesuatu, atau
b. menyatakan kualitas sesuatu, atau
c. menyatakan keadaan sesuatu.
Oleh karena itu, contoh kalimat a-d pada "CATATAN" itu masuk kelompok jenis kata sifat karena memenuhi hakikat kata sifat. Sedangkan, pada contoh e-h tidak dapat dimasukkan ke kelompok kata sifat karena di dalam kata itu menyatakan aktivitas.
Pertanyaan yang segera muncul adalah, mengapa demikian? Itu semua tidak bisa terlepas dari sejarah pembelajaran yang pernah diterima para siswa dan juga bisa tidak terlepas dari dasar-dasar yang dimiliki guru yang mengajarkan materi itu kepada para siswa. Atau, mungkin juga, guru hanya menggunakan satu referensi yang dianggapnya bisa diterima oleh siapa pun tanpa mau membandingkan dengan pendapat-pendapat lain yang bisa dipertanggungjawabkan.
Memang ada teori yang diprakarsai oleh Prof. Dr. Gorys Kerraf tentang penentuan jenis kata sifat. Teori yang dikemukankan sebagai berikut:
Jenis kata sifat diberi ciri sebagai bentikut :
1) bentuk
Segala kata sifat dapat dibentuk dengan se- + reduplikasi kata dasar + -nya.
Misal :
tinggi setinggi-tingginya
marah semarah-marahnya
bersih sebersih-bersihnya
kotor sekotor-kotornya
baik sebaik-baiknya
cepat secepat-cepatnya
2) kelompok kata
Segala kata yang sudah dicalonkan menjadi kata sifat harus dapat diperluas menggunakan kata lebih, paling, sekali.
Misal :
tinggi tinggi sekali paling tinggi lebih tinggi
marah marah sekali paling marah lebih marah
bersih bersih sekali paling bersih lebih bersih
kotor kotor sekali paling kotor lebih kotor
baik baik sekali paling baik lebih baik
Berdasar teori yang dikemukakan, Gorys Keraf memberi batasan kata sifat sebagai berikut:
segala kata yang dapat mengambil bentuk se- + reduplikasi + -nya serta dapat diperluas dengan : paling,
lebih, sekali adalah kata sifat.
Teori ini lebih banyak digunakan untuk memberi pemahaman tentang kata sifat kepada para siswa sehingga bagaimana pun akan menghasilkan generasi baru yang selalu berkutat dengan dengan teori tersebut. Sehingga, jika terdapat kalimat sebagai berikut: Aku baru membeli baju kemarin. Tetapi, isteriku cemburu. Ia merasa kurang aku sayang, kemudian jika para siswa atau siapa pun, mungkin, ditanya "kata bercetak tebal pada kalimat itu termasuk jenis kata apa", mungkin, jawaban yang dapat dipastikan adalah jenis kata sifat.
Pertanyaannya menjadi, benarkah demikian yang harus dikatakan mereka? Jika jawaban mereka seperti itu, jelas-jelas "kurang bisa diterima". Lalu, siapakah sumber yang menjadikan "kurang bisa diterima" itu? Jawaban paling mudah adalah kesalahan teori yang digunakan. Jika menggunakan teori Gorys Kerraf (GK), memang empat kata itu bisa diterapi dengan teori yang diajukan itu. Tetapi, benarkah kata "baru" pada kalimat itu kata sifat? Berdasar habitanya, kata "baru" memang termasuk kata sifat, tetapi pada kalimat itu benarkah tetap berjenis kata sifat? Begitu juga kata "cemburu" dan kata "sayang" tidak bisa dilihat dari sisi kulit kata itu semata, tetapi yang lebih utama yang harus dipertimbangkan adalah desah nafas kedua kata itu. Jika desah nafas kedua kata itu tidak sama dengan desah nafas kata sifat, sudah seharusnya tidak disebut kata sifat.
Teori lain yang sekiranya dapat memberi jawaban jalan keluar terhadap pertanyaan "benarkah kata baru pada kalimat tadi bukan berjenis kata sifat" adalah teori yang dikemukakan oleh Prof. Drs. Wojowasito (alm). Teori yang dikemukakan adalah teori struktural. Dengan kata lain, untuk jenis kata, penjenisan kata tidak semata-mata bisa langsung ditentukan begitu saja jika suatu kata termasuk jenis kata tertentu, pada kondisi berbeda tetap berjenis kata tertentu itu pula. Oleh karena itu, dikemukakan tahapan teori sebagai beikut:
Pembagian jenis kata teori struktural menggunakan dasar :
A. berdasar fungsi jika kata yang akan ditentukan jenis katanya itu digunakan dalam suatu struktur kalimat.
Maksudnya dalam kalimat itu kata tersebut menduduki jabatan apa. Jabatan kalimat menurut teori struktural dapat mentransposisi suatu jenis kata menjadi jenis kata lain. Jabatan kalimat memiliki kemampuan besar mentransposisi jenis kata. Tetapi, untuk predikat sangat improduktif mentransposisi.
Misal :
Putih melambangkan kesucian. Kata putih menduduki sebagai subjek. Oleh karena ciri subjek selalu diisi kata benda atau yang dibendakan maka kata putih merupakan kata yang bernilai kata benda. Begitu juga kalau kata putih itu menduduki sebagai objek.
Untuk jabatan predikat sangat improduktif karena tidak semua kata yang menduduki predikat akan berubah jenis. Ada persyaratan sangat ketat yang harus dipenuhi untuk bisa mengubah jenis kata tertentu jika menduduki jabatan predikat. Persyaratan itu adalah:
1. kalimat yang digunakan harus kalimat pasif.
2. kalimat pasif yang digunakan harus kalimat pasif persona (tidak sembarang kalimat pasif)
Misal:
a. Aku sabit rumput di depan rumahku.
b. Kamu telepon Adik?
Kata "sabit" dan "telepon" pada kalimat itu tidak bisa disebut berjenis kata benda walau berasal dari kata benda. Dua kata itu harus disebut berjenis kata kerja. Mengapa demikian?
1. setiap kalimat pasif selalu berpredikat kata kerja.
2. kedua kalimat itu termasuk kalimat pasif persona.
3. kalimat pasif persona selalu dapat ditransformasi menjadi kalimat aktif.
Jika dua kalimat itu ditransformasi menjadi kalimat aktif akan menjadi:
a.1 Aku menyabit rumput di depan rumahku.
b.1 Kamu menelepon Adik?
B. berdasar morfologi jika kata itu berdiri sendiri dan berupa kata jadian. Artinya untuk menentukan jenis
kata suatu kata jadian harus ditentukan berdasar proses morfologis yang membentuknya.
C. berdasar semantis jika kata itu berdiri sendiri dan berbentuk kata dasar. Misal kata putih. Kata itu bila
berdiri sendiri, yang tidak berkait dengan sintaksis, termasuk jenis kata sifat, karena kata itu menyatakan
makna sifat suatu warna.
Menurut Prof. Drs. S. Woyowasito, pelopor struktural Indonesia, penekanan utama tiga dasar penjenisan kata itu pada fungsi kata itu dalam kalimat di samping memperhitungkan makna. Berdasar teori itu Wojowasito menentukan jenis kata berdasar ciri-ciri sintaksis setiap jenis kata itu. Untuk kata sifat secara struktural diberi ciri sebagai berikut:
1) lazim mengikuti kata benda sebagai penjelas
2) dapat dimasukkan imbangan perbandingan dengan menyertakan kata: paling, lebih
3) tidak dapat digunakan untuk perintah
4) tidak dapat didahului kata : hendak, sedang
Kembali pada contoh pertama, jika empat kata itu diterapi teori GK, semua kata itu akan masuk ke jenis kata sifat.
Namun demkian, masih juga menyisakan pertanyaan, benarkah seperti itu. Jika hanya mengandalkan teori GK, memang tidak ada jawaban lain selain itu. Tetapi, kita harus selalu ingat “masih banyak jalan menuju Roma”. Jika empat kata itu memang desah nafas yang dihembuskan desah nafas kata sifat, seratus persen harus diterima sebagai kata sifat. Namun, jika di antara empat kata itu ada yang menghembuskan nafas tidak seperti kata sifat, harus dimaklumi itu bukan kata sifat. Atau, kata itu memang berasal dari kata sifat, tetapi telah berpindah lingkungan dan berganti KTP sesuai dengan lingkungan yang ditempati, secara hukum kata itu tidak boleh lagi diakui sebagai warga kata sifat. Oleh karena itu, penentuan suatu jenis kata tidak bisa hanya ditentukan karena baju yang digunakan seperti yang dicirikan GK, tetapi harus dilihat ciri-ciri biologis kata itu. Itu bisa digambarkan seperti jika melihat seorang lelaki yang berbusana, berias, dan bertingkah seperti wanita, dan kecantikannya berada di atas rata-rata kecantikan wanita, bukan berarti dia harus dimasukkan ke kelompok jenis kelamin wanita. Untuk memahami bagaimana seharusnya adjektif itu harus disikapi sebagaimana mestinya, sebelumnya harus dipahami lebih dahulu kata-kata yang memiliki kemiripan dengan adjektif, yaitu kata kerja yang memiliki wujud mirip kata sifat. Ini sangat perlu agar tidak sampai terjadi pengacauan penyebutan yang seharusnya disebut kata kerja disebut kata sifat atau adjektif.
Pertama: hakikat kata kerja
Banyak orang, termasuk di dalamnya siswa dan guru, jika ditanya apakah kata kerja itu? Ternyata jawaban yang dimajukan belum mencakup secara utuh pengertian kata kerja itu sendiri. Itu bisa dilacak dari jawaban terhadap pertanyaan, manakah di antara kata berikut ( cemburu, gelisah, jengkel, makan, tidur, melamun) yang termasuk kata kerja? Kebiasaan jawaban yang biasa disampaikan adalah tiga kata pertama disebut kata sifat dan tiga kata terakhir disebut kata kerja.
Pertanyaan yang segera muncul bagi yang telah memahami hakikat kata kerja adalah "benarkah seperti itu?" Mereka tidak akan berpendapat seperti itu. Mereka akan mengatakan semua kata itu termasuk jenis kata kerja. Mengapa demikian? Karena kata kerja pada hakikatnya adalah semua kata yang menyatakan/menggambarkan aktivitas. Tetapi, aktivitas itu tidak dapat hanya diartikan secara sempit. Wujud aktivitas dalam diri manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu aktivitas lahiriyah dan aktivitas batiniyah. Aktivitas lahiriyah, yaitu aktivitas yang kemungkinannya dapat dilihat, atau dapat didengarkan. Misal, "Ia sedang memilih baju yang akan digunakan". Aktivitas "memilih" pada aktivitas yang dilakukan si ia dapat diindra oleh siapa pun. Atau, "Ia sedang mengucapkan sesuatu". Aktivitas "mengucapkan" memang tidak bisa dilihat, tetapi dapat didengarkan. Oleh karena itu, aktivitas seperti itu termasuk wujud aktivitas lahiriyah. Sedangkan, aktivitas batiniyah adalah aktivitas yang tidak dapat dilihat ataupun didengar, tetapi akibat atau pengaruh dari aktivitas itu bisa tampak secara lahiriyah. Misal, kata cemburu, gelisah, jengkel. Secara lahir aktivitas yang dilakukan tidak dapat diamati, tidak dapat didengar, tetapi akibat dari aktivitas itu sangat tampak jelas dari perubahan air muka, gerak-gerik yang dilakukan, tutur kata yang diucapkan, dan lain-lain.
Sekali lagi, pemakai bahasa Indonesia harus benar-benar cermat membedakan kata kerja yang memiliki kemiripan wujud dengan jenis kata sifat. Kuncinya hanya satu, yaitu memahami secara benar hakikat kata kerja dan wujud aktivitas kata kerja.
Kata-kata kerja yang memiliki kemiripan wujud seperti kata sifat biasa disebut kata kerja adjektif. Daftar kata berikut dapat membantu pemahaman kata kerja adjektif:
adil, akrab, aktif, angkuh, antipati, asing, asyik, awas, bahagia, bangga, benci, bengis, berang, berani, bijak, bimbang, bingung, bohong, boros, bosan, canggung, cekatan, cemas, cemberut, cemburu, cenderung, cepat, curang, cerdas, cerdik, cermat, ceroboh, cinta, condong, congkak, curiga, dahaga, damba, dendam, dengki, diam, durhaka, enggan, fanatik, fasih, ganas, garang, geli, gelisah, gemar, gemas, gembira, gentar, geram, giat, gila, girang, gugup, gundah, gusar, haus, hemat, heran, hormat, iba, ikhlas, ingat, insaf, tolol, iri, iseng, jahat, jahil, jemu, jengkel, jera, jijik, judes, jujur, kaget, kagum, kebal, kecewa, kejam, keji, keliru, keranjingan, kesal, kikir, kikuk, kolot, kritis, kuat, kuatir, labil, lalai, lalim, lamban, lambat, lancang, lancar, lantang, lapar, lata, lega, lelah, lemas, lembut, lengah, linglung, loba, loyo, lupa, luwes, mabuk, mafhum, mahir, wawas, maju, maklum, malas, malu, mampu, manja, marah, masygul, melempem, mesra, muak, mundur, muram, murka, murtat, nakal, nekat, netral, ngeri, ngilu, paham, pandai, panik, pasif, pasrah, patuh, payah, peka, pelit, percaya, pilu, pintar, pongah, prihatin, puas, pusing, ramah, rapi, rela, riang, ribut, rindu, risau, royal, rukun, sabar, sakit, sanggup, sangsi, sayang, sebal, sedih, segan, segar, sehat, sembrono, senang, serakah, serius, setia, setuju, siap, sibuk, silap, sombong, sopan, sosial, suka, sukar, susah, taat, tabah, tahu, waspada, takluk, takut, taqwa, tamak, tangguh, tangkas, tegar, tegas, teguh, tekun, teliti, tenang, teramp
(Sumber data : Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, dengan beberapa penyesuaian)
CATATAN:
Ada beberapa kata pada daftar kata itu yang memerlukan kecermatan dan kearifan. Artinya kata-kata tersebut walau sudah termasuk dalam daftar kata kerja adjektif, tetapi pada kesempatan lain kata-kata itu bisa saja berubah jenis menjadi kata sifat. Misal, kata: lamban, lancar, melempem, tenang, dan masih ada beberapa lagi. Kata-kata tersebut bisa mengalami transposisi karena fungsi yang dimasuki memungkinkan menjadikan kata kerja adjektif itu (lamban, lancar, malang, melempem, tenang) berubah jenis menjadi kata adjektif/kata sifat. Misal, jika digunakan pada kalimat:
a. Lalu lintas di jalan raya itu berjalan lamban.
b. Air di sungai itu tidak dapar mengalir lancar.
c. Kerupuk itu telah melempem.
d. Ia berjalan tenang sekali.
Bandingkan, jika digunakan pada kalimat berikut:
e. Ia lamban menerima pelajaran baru.
f. Jika pikiranmu lancar, pasti mudah menerima pelajaran ini.
g. Pikiran melempem, mengapa kamu pakai?
h. Hatiku tenang menghadapi kamu.
Kedua: hakikat kata sifat
Untuk memahami hakikat kata sifat, contoh kalimat berikut diharapkan dapat membantu.
a. Setiap pagi Ibu menyediakan teh manis untuk keluarga.
b. Jamu pahit dapat digunakan mengobati penyakit tertentu.
c. Sepeda rusak jangan kamu pakai!
d. Kamu harus menggunakan baju bersih.
e. Ia mendapat nilai bagus pada ujian terakhirnya.
f. Hati baik susah dicari.
Pemakaian kata-kata bercetak tebal pada keenam kalimat itu dapat dianalisis sebagai berikut :
a. Kata manis dan pahit pada kalimat a dan b menyatakan semantis ‘sifat’.
b. Kata bersih dan rusak pada kalimat c dan d menyatakan semantis ‘keadaan’
c. Kata bagus dan baik menyatakan semantis ‘kualitas’.
Berdasar kenyataan itu, maka suatu kata dapat dikatakan pada hakikatnya suatu kata dapat disebut sebagai kata sifat jika kata itu :
a. menyatakan sifat sesuatu, atau
b. menyatakan kualitas sesuatu, atau
c. menyatakan keadaan sesuatu.
Oleh karena itu, contoh kalimat a-d pada "CATATAN" itu masuk kelompok jenis kata sifat karena memenuhi hakikat kata sifat. Sedangkan, pada contoh e-h tidak dapat dimasukkan ke kelompok kata sifat karena di dalam kata itu menyatakan aktivitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar