Powered By Blogger

Senin, 28 Maret 2011

CARA MENGEMBANGKAN PARAGRAF


CARA MENGEMBANGKAN PARAGRAF
Secara umum pengembangan paragraf dapat digambarkan sebagai berikut:
Pertama : pengembangan dari khusus ke umum atau sering disebut pengembangan induksi.
Jenis pengembangan dari khusus ke umum, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Cara-cara itu adalah :
a.    cara sebab akibat
b.    cara akibat sebab
c.    cara analogi
d.    cara generalisasi.
Kedua : pengembangan dari umum ke khusus atau sering disebut pengembangan deduksi.
Jenis pengembangan dari umum ke khusus, juga ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Cara itu adalah :
a.    cara silogisme
b.    cara entimem
c.    cara pola biasa

1.    Pengembangan dari khusus ke umum 
     Pengembangan paragraf dengan pola khusus ke umum dikembangan dengan cara pada awal-awal paragraf sampai hampir mendekati akhir paragraf berisi informasi-informasi yang memiliki kekhususan. Informasi khusus itu nantinya akan digunakan membuat suatu pernyataan umum berkait dengan kekhususan-kekhususan yang telah diberitakan pada awal-awal paragraf itu.

a.    Pengembangan sebab akibat 
     Pengembangan paragraf dengan pola sebab akibat memberi pengertian bahwa kalimat-kalimat pada bagian awal sampai mendekati akhir paragraf merupakan sebab-sebab yang akan dijadikan dasar membuat suatu rumusan berupa akibat dari sebab-sebab tersebut. Perlu dipahami bahwa kalimat yang disebut sebab pada bagian itu tidak boleh memiliki hubungan sebab akibat dengan kalimat berikutnya. Artinya kalimat pertama menimbulkan akibat yang terdapat pada kalimat kedua. Kalimat kedua menjadi sebab timbulnya kalimat ketiga dan seterusnya, bukanlah demikian. Tetapi, semua kalimat yang menjadi sumber akibat yang terdapat pada akhir paragraf harus benar-benar kalimat yang menyatakan “sebab murni”
Mari kita cermati contoh berikut!

1)Anak itu tercatat sebagai pelajar di sekolah X. 2)Hampir setiap hari, waktu yang ada hanya digunakan untuk bermain. 3)Bersekolah hanya sekedar mencari status agar dikatakan anak terpelajar. 4)Hampir setiap hari absen bersekolah. 5)Setiap awal bulan selalu meminta uang untuk membayar sumbangan pendidikan. 6)Uang itu pun habis digunakan bersenang-senang. 7)Sudah terlalu banyak pelanggaran yang dilakukan. 8)Sekolah mengembalikan dia kepada orang tuanya.

Kalimat  kedua pada paragraf itu bukan akibat dari adanya kalimat pertama. Kalimat ketiga juga bukan akibat adanya kalimat kedua atau pun kalimat pertama. Begitu seterusnya sampai dengan kalimat ketujuh. Sedangkan, kalimat kedelapan merupakan akibat yang muncul dari kalimat pertama sampai dengan kalimat ketujuh. 

Untuk mempertajam pemahaman paragraf sebab akibat, cermati paragraf berikut!

Perintah sudah aku berikan. Petunjuk sudah aku sampaikan. Tetapi, nafsu tampaknya, terlalu menyetir pikiran dan nurani dia. Padahal, dia telah tahu tugas pokok sebagai karyawan yang ditempatkan di unit kerja tertentu. Buku-buku masih berserakan di lantai dari saat pengecatan sampai dengan selesai pengecatan. Dengan cara kerja seperti itu, semua pelayanan menjadi terhambat dan bahkan berhenti sama sekali untuk jangka waktu tertentu.

Pada contoh kedua itu sangat terasa, dari sebab-sebab yang dipaparkan pada kalimat-kalimat sebelum kalimat terakhir menjadikan kemunculan akibat seperti tertera pada kalimat terakhir paragraf tersebut. 

Pada jenis pengembangan seperti itu, kalimat utama bukan berada pada kalimat yang menjadi sebab. Tetapi, kalimat utama paragraf jenis sebab akibat terdapat pada akhir paragraf itu. 

Bagaimana dengan contoh berikut? 

Krisis keuangan global baru saja melanda dunia. Amerika Serikat sebagai negara adidaya dalam segala hal dan boleh dikatakan kiblat dari segalanya nyaris tak berdaya. Perekonomian di negara itu hampir lumpuh total. Debitur-debitur besar atau pun kecil tidak lagi memiliki kemampuan mengkredit pinjaman mereka. Bangk-bank besar banyak mengalami kesulitan keuangan. Apalgi, bank-bank kecil pasti gulung tikar. Untuk menghadapi problema itu Amerika Serikat mengambil keputusan memberi pinjaman secara lunak kepada sektor-sektor keuangan dan pelaku usaha Amerika. Banyak negara maju dan negara berkembang merasa “klimpungan” menghadapi krisis itu. Lebih-lebih,  negara miskin akan sangat tak berdaya menghadapi keadaan itu.

b.    Pengembangan akibat sebab 
     Pengembangan paragraf model ini merupakan kebalikan pola pengembangan sebab akibat. Artinya kalimat awal paragraf sampai dengan mendekati akhir paragraf berisi akibat-akibat yang nantinya bersumber pada sebab yang berada pada akhir paragraf. Dan, perlu diingat, kalimat-kalimat yang berada di awal-awal paragraf jenis ini tidak boleh memiliki hubungan sebab akibat. Itu berarti, kalimat-kalimat tersebut harus benar-benar murni berisi sejumlah akibat yang terjadi karena sebab yang disebutkan pada kalimat terakhir paragraf itu.

Mari kita cermati contoh berikut!
Kepala ini terasa pecah. Berfikir sedikit saja terasa dunia ini berputar. Berjalan selangkah dua langkah seakan muka bumi ini bergoyang-goyang terkena gempa bumi dahsyat. Aku berhenti dan berpegangan, tapi semuanya tidak bisa membantu keadaanku. Mungkinkah apa yang aku alami ini karena pengaruh minuman tadi?

Benarkah contoh itu paragraf dengan pengembangan akibat sebab?
Bagaimana dengan contoh berikut?

Susi hari ini jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Wajahnya tampak murung. Gairah belajarnya pun jauh dari kebiasaannya. Sering pandangannya lepas melayang. Pertanyaan-pertanyaan cerdas yang biasanya meluncur lepas, hari ini sepi senyap lepas bebas tak berbekas. Waktu istirahat, ia duduk menyendiri di sudut taman. Ia tampak melamun. Ia terperanjat ketika Ali lewat dan bertanya, “Mengapa kamu duduk sendiri di sini?” ia tampak tersenyum malu, “Aku rindu kamu.”

Kalimat pertama sampai dengan kalimat ketujuh berisi akibat. Ternyata akibat-akibat itu bermula dari sebuah sebab yang terdapat pada kalimat kedelapan “Aku rindu kamu”. Kerinduan itulah yang menjadikan Susi memiliki keberbedaan hari itu dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Sungguh sangat hebat akibat penyakit rindu yang menjangkiti seseorang.

Cermati juga contoh berikut!

Jam yang biasanya setia membangunkan aku pagi-pagi berubah tabiat. Tak sedenting pun bunyi dikeluarkan dari bibirnya. Seakan ia membisu seribu bahasa. Tak mau mempedulikan tuannya. Akibatnya aku bangun pagi terlambat. Bergegas ke kamar mandi, sabun, sikat gigi tertinggal di almari. Akan langsung mandi pun air pun tinggal beberapa senti. Terpaksa mandi mini. Belum selesai mandi, hujan deras turun membasahi bumi. Cepat-cepat aku lari dan berpakaian rapi. Mencari dan menstop kendaraan tak ada yang mau berhenti. Terpaksa aku berjalan kaki. Sampai di sekolah jam pelajaran sudah dimulai satu jam lalu. Lapor ke guru piket, aku disuruh menanti. Sungguh sial aku hari ini.

Benarkah contoh itu dikembangkan dengan model akibat sebab?

c.    Pengembangan generalisasi  
     Paragraf generalisasi diawali dengan menampilkan data-data secara individu atau kelompok hasil suatu kegiatan atau apa pun yang nantinya dapat digeneralisasikan. Dengan catatan data yang diperoleh harus memiliki sifat kesamaan antarindividu atau antarkelompok atau antarapa pun baik secara kulitas maupun kuantitas. Objek-objek khusus yang tidak memiliki keterkaitan atau hubungan tidak dapat digunakan sebagai dasar membuat generalisasi.  

     Dari objek khusus yang memiliki kesamaan itu diolah sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu pernyataan yang dapat diberlakukan pada semua anggota yang digunakan dasar menggeneralisasikan. Oleh karena itu generalisasi harus bersifat umum dan berlaku untuk kelompok bukan untuk individu. 
      Cermati contoh berikut!

Seorang wanita muda mengendari mobil sedan tergelincir hampir masuk ke selokan di pinggir jalan. Itu terjadi karena di badan jalan itu terdapat ceceran minyak pelumas cukup banyak. Mungkin wanita itu tidak tahu sehingga ia mengendarai mobilnya seperti biasa. Sehari sebelumnya di tempat berbeda juga terjadi kecelakaan dan lagi-lagi pengendaranya juga wanita. Ia mengalami kecelakaan menabrak pohon di tepi jalan itu karena ban depan kiri kempes mendadak. Cukup lumayan kerusakan yang dialami mobilnya. Ternyata wanita tidak memiliki kemampuan baik mengendarai kendaraan bermotor 

 Pernyataan-pernyataan khusus seperti itu tidak dapat dijadikan dasar menggeneralisasikan menjadi “Wanita tidak memiliki kemampuan baik mengendarai kendaraan bermotor”. Mengapa? Kejadian-kejadian itu memiliki sifat relatif dan insidental. Selain itu, unsur ketidaksengajaan sangat dominan.
Sekarang, kita coba mencermati contoh berikut!
Suatu lembaga penelitian mengadakan surve berkait calon pemimpin masa depan dengan menggunakan angket. Angket itu hanya berisi dua hal. Pertama tentang batas umur calon pemimpin negeri ini. Kedua kriteria kualitas calon pemimpin. Surve ditujukan kepada 500 responden dari berbagai kota besar di Indonesia. Hasil surve menunjukkan, yang menghendaki calon pemimpin minimal 40 tahun adalah 345 orang. Yang memilih minimal 50 tahun 150 orang. Sisanya menyatakan tidak tahu. Tentang kualitas, yang memilih calon pemimpin harus beriman, bertaqwa, memiliki lidersip, pemberani, selalu mengikuti kehendak rakyat, dan jujur berjumlah 130 orang. Yang 362 orang menghendaki calon pemimpin itu harus beriman, bertaqwa, memiliki lidersip, pemberani, dan jujur. Sisanya menyatakan tidak tahu. Berdasar kenyataan itu surve itu menyimpulkan bahwa calon pemimpin yang dikehendaki rakyat adalah calon pemimpin yang relatif muda dan beriman, bertaqwa, memiliki lidersip, pemberani, dan jujur. 

Contoh seperti itu dapat dimasukkan ke dalam golongan generalisasi karena data yang diperoleh data akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu data tersebut diperoleh dari objek yang menggunakan kesadaran tinggi ketika mereka memilih pilihan-pilihan yang diajukan pihak yang melaksanakan surve.


d.    Pengembangan analogi 
      Analogi memiliki pengertian membentuk bentuk baru dengan cara meniru suatu bentuk yang sudah ada. Misal, kata “ketidakberesan”. Kata itu pada hakikatnya dibentuk denga cara meniru bentuk-bentuk tunggal yang diberi tambahan afiks “ke-an” seperti: keadilan, kecondongan, kehebatan. Kata-kata itu berbentuk dasar bentuk tunggal, yaitu: adil, condong, hebat. Lain halnya dengan kata “ketidakberesan” dibangun oleh bentuk dasar yang berasal dari dua bentuk tunggal, yaitu: tidak dan beres dan pembentukannya diperlakukan seperti kata berbentuk dasar tunggal. 

      Model peniruan seperti itu dapat juga digunakan untuk mengembangkan suatu topik menjadi paragraf. Pengembangan bisa didasari dari pengalaman-pengalaman yang sudah pernah dilakukan atau dapat juga dari pengetahuan-pengetahuan yang pernah diperoleh dan sudah pernah diterapkan. 
      Mari kita cermati contoh berikut!

Untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia wajib berusaha dengan menggunakan kekuatan dan kemampuan yang diberikan Yang Kuasa. Karena itu, pada awalnya Bu Ali ingin ikut meringankan beban ekonomi suami tercinta dengan membuat makanan ringan pisang kering manis. Pertama kali produksi berupa makanan ringan itu dikenalkan kepada ibu-ibu pada saat pertemuan kelompok PKK lingkungan tempat Bu Ali berada. Ternyata minat para ibu luar biasa dan banyak yang memesan. Dari pengalaman itu Bu Ali memasarkan kue itu tidak hanya di lingkungan sekitarnya, tetapi sudah berani menitipkan produknya itu di beberapa toko penjual makanan ringan atau warung-warung. ternyata banyak toko makanan ringan lainnya meminta Bu Ali menitipkan produksinya itu di toko mereka. Begitu juga warung-warung kelontong maupun warung-warung makanan. Dengan keadaan seperti itu akhirnya Bu Ali dan keluarganya memberanikan diri mengembangkan produksinya secara kualitas dan kuantitas untuk “go intercity”.

Jika kita teliti, pengembangan usaha keluarga Bu Ali itu didasarkan pada pengalaman-pengalaman. Bukan berdasar ambisi semata. Itu semua tidak lepas dari kualitas produksi. 

Bagaimana dengan contoh berikut?

Aku manusia awam. Pengetahuanku sangat terbatas karena memang kehidupan keluargaku berada pada lingkungan sangat terbatas pula. Dengan semangat tinggi aku coba menata kehidupanku. Sedikit banyak aku bergaul dengan lingkungan lebih luas. Banyak hal aku peroleh dari pergaulan itu baik yang bernilai maupun yang tidak bernilai. Aku coba yang bernilai itu aku tanamkan dalam hati dan pikiranku. Aku coba renung kembangkan pengetahuan bernilai itu sehingga menjadi nilai tambah pada diriku. Setelah aku pahami dengan baik dan aku dapat melaksanakannya, aku coba tularkan kepada saudara-saudaraku yang muda. Awalnya mereka heran, aku bisa berbuat demikian. Tetapi, ia mengakui bahwa setelah mereka mencoba menerapkan apa yang aku sampaikan, mereka merasakan suatu ketenangan hidup dibandingkan sebelumnya. Suatu saat, keluargaku ngobrol bersama membahas kehidupan yang terasa semakin berat ini. Di saat itu, aku coba memasukkan nilai kebaikan itu kepada keluargaku bersama adik-adikku. Alhamdulillah, berkat ketekunan dan bimbingan-Nya, mereka dapat melakukan apa yang sebenarnya harus dilakukan manusia sebagai rasa bakti kepada-Nya. Dari saat itu terasa sekali kehidupan keluargaku tenteram, damai, dan rizki selalu ada saja.


2.    Pengembangan dari umum ke khusus 
    Pengembangan penulisan ide pada pola umum-khusus pada hakikatnya sangat jarang diwujudkan dalam bentuk paragraf. Pengembangan jenis paragraf umum-khusus biasanya menggunkan bentuk terinci. Di sana terdapat pernyataan umum dan pernyataan khusus yang masing-masing memiliki keterkaitan. Pada akhirnya pernyataan umum dan pernyataan khusus itu digunakan sebagai dasar membuat pernyataan  baru yang lebih khusus. 

     Perlu diingat, pernyataan umum memiliki pengertian bahwa di dalam pernyataan itu memuat informasi yang berlaku pada semua anggota yang terdapat pada kelompok itu. Pernyataan umum tidak boleh berisi pernyataan yang hanya berlaku pada individu-individu. Sedangkan, pernyataan khusus memuat informasi yang hanya berlaku pada individu atau kelompok tertentu. Dan, pernyataan khusus harus memiliki hubungan dengan pernyataan umum.  

     Selain bisa disebut sebagai pernyataan umum, pernyataan yang berisi informasi secara umum ini juga bisa disebut premis umum atau juga premis mayor. Sedangkan, pernyataan khusus biasa disebut premis khusus atau premis minor. Dua pernyataan itu pada akhirnya ditutup dengan sebuah pernyataan yang merupakan perpaduan antara pernyataan umum (PU) dan pernyataan khusus (PK) yang merupakan sebuah kesimpulan (K).  

      Jika pernyataan-pernyataan itu dibuat semacam patokan, dapat digambarkan sebagai berikut:
Jika PU  = A + B
        PK = C + A
Maka K = C + B 

Perumusan PK tidak harus selalu C + A; bisa juga C + B. Tetapi, tidak boleh C + D.  
Mengapa? Jika PK = C + D, itu berarti PK tidak memiliki hubungan dengan PU.         
Satu hal yang perlu dipahami, mengapa PU atau PK atau pun K berbentuk seperti itu? Pada hakikatnya setiap pernyataan itu harus terdiri dua informasi, baik berupa kalimat tunggal maupun kalimat majemuk.
Contoh berikut bisa memperjelas gambaran tersebut!
PU = Untuk mencapai cita-cita, manusia harus berusaha sekuat tenaga.
PK = Aku ingin mencapai cita-citaku.
K    = Aku harus berusaha sekuat tenaga. 

Contoh itu bisa disebut sebagai penyampaian ide, tetapi bentuk yang digunakan bukan   
bentuk yang akan kita pelajari, yaitu berbentuk paragraf. Kita akan mencoba  
mengembangkan ide model seperti itu dalam bentuk paragraf bukan dalam bentuk rincian 
seperti itu.  

Namun, sebelum kita berbicara jauh tentang model pengembangan paragraf ini, perlu juga 
kita pahami bahwa wujud informasi pada silogisme ada yang benar ada yang salah 
sehingga akan disebut silogisme salah (untuk yang salah) dan silogisme benar (untuk yang 
benar).

Ukuran benar atau salah yang digunakan adalah jika isi silogisme itu masih bisa 
dipertanyakan kebenarannya, berarti silogisme itu digolongkan ke dalam silogisme salah. 
Sebaliknya, jika isi silogisme itu tidak dapat dipertanyakan lagi, karena memiliki kemutlakan, 
silogisme itu digolongkan silogisme benar.
Misal:
PU = Pada umumnya para petani memiliki alat-alat pertanian sendiri untuk mengolah
          dan memelihara tanaman yang ditanamnya.
PK = Pak Ali seorang petani yang mengerjakan lahan pertanian sendiri.
K    = Pak Ali memiliki alat-alat pertanian sendiri untuk mengolah dan memelihara
          tanaman yang ditanamnya.

Informasi yang terdapat pada contoh silogisme itu memiliki kebenaran mutlakkah sehingga 
contoh itu harus disebut silogisme benar? Atau, justru sebaliknya? Untuk menjawab 
perntanyaan-pertanyaan itu, perlu pemahaman lebih mendalam dan juga perlu dikaitkan 
dengan realita sebenarnya.

Silogisme dapat dibedakan menjadi:
1) silogisme kategorial;
2) silogisme tersusun.

1. Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris.
Misal:    
PU = Semua mamalia adalah binatang yang melahirkan dan menyusui anaknya.
PK = Kerbau termasuk mamalia.
K   = Jadi, kerbau merupakan binatang yang melahirkan dan menyusui anaknya.     
Yang perlu dicermati adalah, bahwa pola penalaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari kita tidak demikian nampak, entah di realita pembicaraan sehari-hari, lewat surat kabar, majalah, radio, televisi, dan lain-lain. Oleh sebab itu, dalam menyimak atau mendengarkan atau menerima pendapat seseorang, kita perlu berpikir kritis melihat dasar-dasar pemikiran yang digunakan sehingga kita dapat menilai seberapa tingkat kualitas kesahihan pendapat itu.
     Dalam hal seperti ini kita perlu menentukan:
1) kesimpulan apa yang disampaikan;
2) mencari dasar-dasar atau alasan yang dikemukakan sebagai premis-premisnya; dan 3) menyusun ulang silogisme yang digunakannya;
4) kemudian melihat kesahihannya berdasarkan ketentuan hukum silogisme.

     Berdasar hal tersebut tentu saja kita akan mampu melihat setiap argumen, pendapat, alasan, atau gagasan yang kita baca atau dengar. Dengan demikian, secara kritis kita mengembangkan sikap berpikir ke arah yang cerdik, pintar, arif, dan tidak menerima begitu saja kebenaran/opini yang dikemukakan pihak lain. Berdasarkan hal inilah akhirnya kita mampu menerima, meluruskan, menyanggah, atau menolak suatu pendapat yang kita terima.

2. Silogisme Tersusun

      Dalam praktik kehidupan sehari-hari bentuk dilogisme  kategorial  sering tidak diikuti sebagaimana mestinya, melainkan diambil jalan pintas demi lancar dan cepatnya komunikasi antarpihak. Berikut bentuk-bentuk yang dimaksud, yang sebenarnya merupakan perluasan atau penyingkatan silogisme kategorial. Silogisme ini dapat dibedakan dalam tiga golongan: 1) epikherema; 2) entimem; dan 3) sorites.

2.1 Epikherema

             Epikherema merupakan jabaran dari silogisme kategorial yang diperluas
           dengan jalan memperluas salah satu premisnya atau keduanya. Cara yang biasa   
           digunakan adalah dengan menambahkan keterangan sebab: penjelasan sebab
           terjadinya, keterangan waktu, maupun poembuktian keberadaannya. Perhatikan
           contoh berikut:

PU = Semua pahlawan bersifat mulia sebab mereka selalu memperjuangkan hak
         miliki bersama dengan menomorduakan kepentingan pribadinya.
PK = Sultan Mahmud Badaruddin adalah pahlawan.
K    = Jadi, Sultan Mahmud Badaruddin itu mulia.

      PU = Semua orang nasionalis adalah pejuang sebab mereka senantiasa bekerja
          tanpa kehendak serta tidak menghalalkan segala cara. Di dalamnya, setiap  
          kegiatan dan keterlibatan mereka yakini bahwa Tuhan juga terlibat. Itulah
          sebabnya mereka menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan , keadilan,
          kebersamaan, dan keberbedaan.
PK = Bung Tomo adalah seorang nasionalis.
K = Maka, Bung Tomo seorang pejuang sejati.

              Dari kedua contoh itu terlihat bahwa ada bagian (premis) tertentu yang
 diperluas dengan menambahkan keterangan, alasan, bukti, dan penjelasan
 sebagai pelengkap premis mayor. Pola silogistisnya tetap. Hanya saja jumlah
 keterangan atau atribut yang memperkuat tak terbatas, asalkan memperkuat,
 mempertegas, dan memperjelas premisnya. Perhatikan contoh berikut!
PU = Semua siswa yang rajin belajar dengan teratur, tekun, terencana, dan mempunyai sistem manajemen yang baik tentu akan berhasil dalam hidupnya di masa depan. Dalam klasifikasi seperti ini, mereka senantiasa mempersiapkan diri demi memahami dan mengerti ilmu yang dipelajarai, tidak pasti harus menunggu belajar karena ada ulangan. Belajar, bagi mereka, bukan sebatas tahu dan hafal, bukan untuk memperoleh angka yang dicapai dalam ulangan. Mereka belajar secara rutin sebagai bentuk tanggung jawab mereka menjawab tantangan masa depan dengan jalan memiliki jadwal pribadi yang tersusun tanpa paksaan dari siapa pun. Mereka belajar sampai tahap menganalisis urgensitas bidang studi, baik untuk hidup sekarang maupun yang akan datang. Bagi mereka tiada hari tanpa belajar, tiada hari tanpa prestasi, dan hal itu dijadikan sebagai pegangan hidup.
PK = Ardi adalah siswa yang selalu belajar dengan tekun, teratur, rapi, dan
         terencana.
K    = Maka, tentulah masa depan hidup Ardi pasti baik.

Bagaimana penilaianmu tentang kebenaran isi epikherema itu?

2.2  Entimem

             Entimem merupakan bentuk singkat silogisme dengan jalan mengubah format        
yang disederhanakan, tanpa menampilkan premis mayor. Bentuk silogisme ini bisa
dimunculkan dalam dua cara: 1) C=B karena C=A, dan 2) Karena C=A, berarti C=B.
Bentuk penalaran ini bisa dikembangkan dalam format yang lebih detail bagian per
bagian yang akan memperbanyak gagasan dan konsep. Hubungan logis
memegang peran utama dalam penalaran tipe ini. Pada umumnya entimem dimulai
dari kesimpulan, hanya saja ada alternatif mengemukakan sebab untuk sampai
kepada kesimpulan.

Contoh:

1. Imam memang siswa yang amat baik masa depannya sebab ia bersekolah di SMA
    Bina Kerangka.
2. Orang itu pasti jagoan. Bukankah ia berasal dari Hollywood?
3. Temanku sebangku itu amat pintar. Ia memang dilahirkan dalam shio macan.

Bila kita cermati, ketiga contoh tersebut dapat dilacak rangkaian silogismenya. Setelah mengembalikan rangkaian silogismenya, kita lihat validitas-validitas premis, terutama premis mayor sebagai dasar bernalar, serta akurasi premis minornya, untuk menarik kesimpulan.

2.3 Sorites

Silogisme tipe ini sangat cocok untuk bentuk-bentuk tulisan atau pembicaraan yang bernuansa persuasif. Silogisme tipe ini didukung oleh lebih dari tiga premis, bergantung pada topik yang dikemukakan serta arah pembahasan yang dihubung-hubungkan demikian rupa sehingga predikat premis pertama menjadi subyek premis kedua, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis ketiga, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis keempat, dan seterusnya, hingga akhirnya sampailah pada kesimpulan yang diambil dari subyek premis pertama dan predikat premis terakhir.

Pola yang digunakan sebagai berikut:

S 1…………………………………………P 1

S2 …………………………………………P2

S3……………………….…………………P3, dst.


Kesimpulan: S1 ……………………………P3

Contoh:
PU = Semua penduduk di kampung itu kehidupan mereka bergantung pada hasil 
          produk tangan mereka.
PU = Mereka menciptakan aneka ragam karya tangan. 
PU = Karya-karya itu tidak terbatas kaum pria yang memproses, para ibu dan
          semua remajanya tak tertinggalkan.
PU = Kelompok anak-anak pun juga memiliki ketrampilan seperti kerabatannya.
PK = Aku mempunyai seorang sahabat dari kampung itu. Ia biasa dipanggil Sofi. Ia
         asli dilahirkan dari pasangan rumah tangga asli kampung itu.
K   =  Aku berkeyakinan ia  pasti terampil membuat kerajinan seperti yang
         diproduksi di kampungnya.


Model-model penuangan ide umum- khusus  berbentuk paragraf

1)    Pengembangan model silogisme
Pada pengembangan silogisme konvensional menjadi paragraf ada beberapa hal yang kita perhatikan :
1.    Jenis silogisme apa yang akan kita kembangkan menjadi paragraf.
2.    Jika jenis soligisme yang akan kita kembangan jenis kategoris dengan cara mengembangkan PU, PK, dan K silogisme itu menjadi lebih panjang. Dengan catatan, pengembangan itu harus tetap bersumber pada silogisme konvensionalnya.
3.    Jika silogisme yang akan kita kembangkan menjadi paragraf itu silogisme epikherema, kita tinggal menghilangi tulisan “PU, PK, K” silogisme itu. Itu juga belaku untuk silogisme jenis sorites.

Cermati contoh berikut!
Semua penduduk di kampung itu kehidupan mereka bergantung pada hasil produk tangan mereka. Aneka ragam karya tangan yang mereka ciptakan. Tidak terbatas kaum pria yang memproses kerajinan itu, para ibu dan semua remajanya tak tertinggalkan. Kelompok anak-anak pun juga memiliki ketrampilan seperti kerabatannya. Aku mempunyai seorang sahabat dari kampung itu. Ia biasa dipanggil Sofi. Ia asli dilahirkan dari pasangan rumah tangga asli kampung itu. Aku berkeyakinan ia  pasti terampil membuat kerajinan seperti yang diproduksi di kampungnya.
Jika kita cermati contoh itu, dapat dipastikan paragraf silogisme itu berasal dari:
PU : Semua penduduk asli kampung itu terampil membuat kerajinan tangan
        mereka.
PK : Sofi asli dilahirkan pasangan rumah tangga asli kampung itu.
K    : Sofi terampil membuat kerajinan tangan.                                                                                                                      
Contoh 1                                                                                                             
Siapa pun pasti mengenal pulau yang sangat terkenal di Indonesia bahkan di tingkat dunia yang terletak di sebelah timur Pulau Jawa. Pulau itu biasa disebut Pulau Bali. Selain terkenal kesenian dan pemandangan alamnya, pulau itu juga terkenal dengan ritual keagaman yang dilakukan penduduk asli Bali, utamanya yang memeluk agama Hindu. Hampir tidak ada waktu yang tidak terlepas dari ritual keagamaannya. Semua aktivitas yang akan dilakukan selalu diawali dengan ritual yang sudah menjadi budaya agama yang dipeluknya. Temanku, I Made Kencana, adalah penduduk asli Pulau Dewata. Ibu dan bapaknya asli warga Bali. Mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat Bali. Begitu juga I Made. Dengan keadaan kehidupan seperti itu, banyak orang mengatakan I Made Kencana pasti beragama Hindu. 

Pernyataan seperti itu belum memiliki kelogikaan mutlak. Mengapa? Kita harus menyadari bahwa perkembangan masyarakat yang ada di sana sekarang jauh lebih beragam dibandingkan dengan sekian puluh tahun lalu. Apalagi dengan dijamin undang-undang kebebasan memeluk agama, berarti keberagaman agama di Bali tidak bisa dihindari. Dengan demikian, walaupun penduduk asli Bali bukan merupakan jaminan bahwa penduduk asli Bali itu pasti beragama Hindu.  

Ketidaklogisan pada contoh itu masih tampak sangat samar dan seakan memiliki tingkat keakuratan logika cukup tinggi. Untuk membuktikan, mari kita kontrol lewat kalimat terakhir, “Dengan keadaan kehidupan seperti itu, banyak orang mengatakan I Made Kencana pasti beragama Hindu”, pada contoh paragraf tersebut. Jika pernyataan itu kita tes dengan pertanyaan, “Pastikah I Made beragama Hindu? Jika jawaban yang muncul “pasti” berarti memang memiliki tingkat kelogikaan akurat, tetapi jika jawaban yang muncul “belum tentu”, tingkat kelogikaan pernyataan itu masih diragukan.
Sekarang mari kita cermati contoh berikut!      
                                       
Contoh 2                                                                                                
Dengan perkembangan tingkat kesadaran beragama, utamanya pemeluk Islam, bukan hanya tingkat kesadaran rokhani yang ingin ditampakkan, tetapi merambah juga sampai ke tingkat cara berbusana. Tampaknya, tingkat perkembangan budaya pemakaian busana untuk menunjukkan tingkat kesadaran beragama (Islam) sudah berubah menjadi budaya. Sampai ada yang mengatakan, sekarang di sekolah-sekolah  semua siswanya menggunakan jilbab. Tak terkecuali di sekolah Sri Kristiani. Kristiani adalah anak pindahan dari sekolah dari luar kota. Ia terpaksa pindah sekolah karena mengikuti kepindahan orang tuanya sebagai pejabat baru di kota ini. Itu berarti Sri Kristiani jika bersekolah memakai jilbab.

Pada contoh 2, ketidaklogikaan tampak lebih jelas dan memang sangat tidak logis. Mengapa? Kita pasti yakin sekolah yang dimaksud pada paragraf itu adalah sekolah umum. Di sana pasti terdiri siswa pria dan wanita. Akankah siswa pria menggunakan jilbab? Pastikah Sri Kristiani beragama Islam?
Itu menunjukkan bahwa ketidaklogikaan bisa terjadi mulai munculnya PU dan PK sehingga menjadikan informasi yang terdapat pada K tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Perhatikan sekali lagi contoh epikherema berikut!
PU = Semua siswa yang rajin belajar dengan teratur, tekun, terencana, dan mempunyai sistem manajemen yang baik tentu akan berhasil dalam hidupnya di masa depan. Dalam klasifikasi seperti ini, mereka senantiasa mempersiapkan diri demi memahami dan mengerti ilmu yang dipelajarai, tidak pasti harus menunggu belajar karena ada ulangan. Belajar, bagi mereka, bukan sebatas tahu dan hafal, bukan untuk memperoleh angka yang dicapai dalam ulangan. Mereka belajar secara rutin sebagai bentuk tanggung jawab mereka menjawab tantangan masa depan dengan jalan memiliki jadwal pribadi yang tersusun tanpa paksaan dari siapa pun. Mereka belajar sampai tahap menganalisis urgensitas bidang studi, baik untuk hidup sekarang maupun yang akan datang. Bagi mereka tiada hari tanpa belajar, tiada hari tanpa prestasi, dan hal itu dijadikan sebagai pegangan hidup.
PK = Ardi adalah siswa yang selalu belajar dengan tekun, teratur, rapi, dan
         terencana.
K    = Maka, tentulah masa depan hidup Ardi pasti baik.
Jika contoh itu kita ubah menjadi paragraf menjadi:
 Semua siswa yang rajin belajar dengan teratur, tekun, terencana, dan mempunyai sistem manajemen yang baik tentu akan berhasil dalam hidupnya di masa depan. Dalam klasifikasi seperti ini, mereka senantiasa mempersiapkan diri demi memahami dan mengerti ilmu yang dipelajarai, tidak pasti harus menunggu belajar karena ada ulangan. Belajar, bagi mereka, bukan sebatas tahu dan hafal, bukan untuk memperoleh angka yang dicapai dalam ulangan. Mereka belajar secara rutin sebagai bentuk tanggung jawab mereka menjawab tantangan masa depan dengan jalan memiliki jadwal pribadi yang tersusun tanpa paksaan dari siapa pun. Mereka belajar sampai tahap menganalisis urgensitas bidang studi, baik untuk hidup sekarang maupun yang akan datang. Bagi mereka tiada hari tanpa belajar, tiada hari tanpa prestasi, dan hal itu dijadikan sebagai pegangan hidup. Ardi adalah siswa yang selalu belajar dengan tekun, teratur, rapi, dan terencana. Maka, tentulah masa depan hidup Ardi pasti baik.
                                                                                                      
2)    Pengembangan model entimem 
     Entimem sebenarnya juga bentuk silogisme. Tetapi, silogisme yang terdapat pada entimem merupakan bentuk singkat silogisme itu sendiri. Artinya, jika silogisme yang sebenarnya harus menggunakan PU dan PK kemudian terwujud K, namun pada entimem langkah PU dan PK ditinggalkan dan langsung membentuk semacam kesimpulan isi informasi yang terdapat pada PU dan PK. 

     Ciri khas entimem di dalam isi informasinya harus mencakup dua hal, yaitu pernyataan inti dan pernyataan penjelas. Dan, setiap entimem harus dapat dikembalikan ke bentuk aslinya, yaitu silogisme.

Perhatikan contoh paragraf berikut!

Tiada seorang pun yang menuntut ilmu tidak berkeinginan mendapat kesuksesan secara maksimal. Cita-cita seperti itu sudah menjadi target setiap manusia yang sedang menuntut ilmu. Untuk bisa mencapai kesuksesan seperti itu salah satu syarat yang dilakukan adalah rajin belajar secara disiplin. Rajin membaca buku dan mengikuti informasi-informasi terbaru berkait dengan pelajaran yang sedang ditekuni. Jika mungkin, harus ditunjang juga sarana pendukung yang cukup. Tampaknya, Evi adalah seorang pelajar yang mendambakan kesuksesan maksimal. Ia tampak setiap saat selalu bergelut dengan buku-buku pelajaran. Ada saja yang dibacanya untuk menambah pengetahuan untuk menunjang kesuksesannya itu. Ia benar-benar rajin belajar dan sangat disiplin waktu.   
                                                                                 
3)    Pengembangan model biasa 
     Yang dimaksud pola biasa di sini adalah pola pengembangan paragraf itu tetap menggunakan umum-khusus, tetapi tidak terdapat PK. Pada paragraf itu sejak awal paragraf dijajarkan pernyataan yang bersifat umum atau berlaku secara umum sampai hampir mendekati akhir paragraf. Pada akhir paragraf disajikan semacam kesimpulan yang diambil dari pernyataan-pernyataan sebelumnya.Mari kita cermati contoh berikut!                      
     
      Setiap perempuan di dalam dirinya selalu memiliki kesabaran. Apabila malam akan selalu menutup pintu-pintu rumah tempat tinggalnya. Ia dengan sabar masih saja menjaga anak-anaknya yang sedang tidur. Seorang perempuan pasti akan menangguhkan segala impian yang dulunya menjadi harapannya jika sudah menjadi ibu. Kemuliaan seorang ibu juga akan dengan rela memaafkan segala dosa dan kenakalan anak-anaknya sampai akhir zaman. Dengan segala ketulusan ia berusaha membasuh setiap niat buruk anak-anaknya. Perempuan itu ibuku. 

     Perlu sedikit penjelasan, paragraf model umum-khusus ini memang ada kemiripan dengan paragraf induksi. Hanya perlu dipahami, pada paragraf induksi akan diawali kalimat-kalimat penjelas yang secara khusus memberi penjelasan terhadap sesuatu yang akan diungkapkan pada kalimat utama. Sehingga, kalimat-kalimat penjelas itu hakikatnya sejajar dengan pernyataan-pernyataan khusus. Dan, kalimat utama yang terletak pada akhir paragraf merupakan pernyataan umum. Karena itu dapat dikatakan bahwa pola yang dianut pada paragraf induksi adalah pola khusus-umum. Lain halnya dengan pada pola umum-khusus pada pembahasan ini. Pernyataan pada awal sampai dengan mendekatai akhir paragraf berupa pernyataan umum dan bisa berlaku secara umum. Lalu, diakhiri dengan semacam kesimpulan yang memberi informasi secara khusus atau spesifik. 
     
      Apalagi, pola ini disamakan dengan pola paragraf deduksi yang juga menggunakan pola umum-khusus sangat tidak mungkin karena pola pengembangannya sangat berbeda. Hanya mirip pola.

HARI INI

Sungguh
hari ini luar biasa
tak terduga bahagia itu
datang menyapa
dari wajah-wajah ceria
anak bangsa
pintu tertutup rapat
di dalam tanpa suara
setelah terbuka
berdiri semua
ada suara bersama
selamat hari warsa
sungguh luar biasa
perhatian mereka
kelembutan,
ketulusan,
keceriaan
menyelimuti dada
hanya doa yang ada
semoga Yang Kuasa
selalu menjaga mereka
selalu mendengar doa mereka
selalu membimbing mereka
sampai alam sana
hari ini hari bahagia
tetapi juga hari duka
perpisahan raga
bukanlah apa
keterikatan hati tetap ada
buang jauh
pendam dalam-dalam
semua khilaf dan dosa
hanya tampakkan yang ceria

lepas rindu
buka media
di sana kita bisa bercanda

perpisahan ini hanya raga
perpisahanan ini hanya di luar kita
perpisahan ini harus menjadi perekat
perpisahan ini harus kita terima
perpisahan ini rahmat Yang Kuasa

Terima kasih
Anak-anakku tercinta.

Lamongan, 29032011, wiwit

Sabtu, 26 Maret 2011

logika bahasa indonesia

LOGIKA BAHASA INDONESIA

Judul itu terinspirasi dari perjalanan rokhani tahun 2010 ketika kami melaksanakan umroh yang kesembilan. Rombongan bulan Juli 2010 tergolong rombongan agak luar biasa. Mengapa? Pada saat itu rombongan yang terdiri 32 orang ternyata ada di antaranya orang-orang hebat dalam bidang akedemisi. Mereka adalah: satu orang bergelar Prof. Dr. ahli jantung RSUD dr. Sutomo, Surabaya, satu orang lagi Prof. Dr. Nur Cholis, ahli di bidang farmasi, dan dua orang lagi calon doktor bidang kesehatan. Dari Prof. Dr. Nur Cholislah inspirasi judul itu muncul walaupun hakikatnya implementasi di pelaksanaan pengajaran bahasa Indonesia sudah lama terterapkan.

Selama bergaul di Tanah Suci, kami sering berdiskusi tentang siswa, tentang pembelajaran, tetang pemberian sanksi kepada siswa dan mahasiswa. Tampak sekali beliau orang yang sangat disiplin. Profesor Nur Cholis memberikan materi farmakologi di UNER. Jabatan strukturalnya sekertaris rektorat UNER. Mentereng juga jabatannya.

Pada saat perjalanan pulang menuju Indonesia, saat penerbangan antara King Abdul Azis sampai menjelang di atas wilayah udara Colombo, kami terlibat diskusi cukup serius tertang pendidikan dan kiat-kiat masuk perguruan tinggi. Beberapa kiat rahasia agar bisa masuk perguruan tinggi, maaf saya tidak menggunakan istilah “diterima di perguruan tinggi” sebab menurut saya memiliki konotasi berbeda antara “masuk” dan “diterima” diberitahukan secara fulgar kepada saya.

Saya tanyakan kiat-kiat yang dimaksud Prof. itu. Ternyata hal yang boleh dikatakan memegang kunci dari sekian mata pelajaran yang diujikan ketika tes masuk perguruan tinggi adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris. Bagaimana dengan mata pelajaran jurusan? Kata beliau, sambil berkelakar, “Asalkan gak sampai nol.”

Hal yang sungguh mengejutkan dari beliau adalah:
1.  Putra putrinya ketika masih di tingkat SMA dilarang mengikuti bimbingan belajar ataupun les mata pelajaran  mipa, tetapi beliau menyusuh mereka les mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris. Sungguh aneh.
2.  Beliau, yang ahli farmasi itu, justru lebih banyak memberikan bimbingan kepada mahasiswanya (ketika membuat tugas akhir) tetang kebahasaindonesiaan. Aneh juga orang ini.
Saya kejar dengan pertanyaan, mengapa begitu? Jawaban beliau sangat enteng, tetapi luar biasa. Apa jawaban beliau, “Bahasa Indonesia itu penuh logika. Siapa pun yang mampu menguasai bahasa Indonesia dengan logika yang sebenarnya, semua mata pelajaran akan dengan mudah kita terima. Karena itu, saya melarang anak-anak saya mengikuti bimbingan belajar atau pun les MIPA.  Alhamdulillah, anak-anak saya berhasil masuk perguruan tinggi semua, termasuk diterima di Erlangga, tanpa bantuan saya, walaupun saya orang dalam.”

Beliau sempat memuji mahasiswa-mahasiswa yang diajarnya yang berasal dari Lamongan. Katanya, mereka itu ketika masuk, dilihat dari paparan angka yang dimilikinya, biasa-biasa saja, tetapi setelah berada di dalam kampus prestasinya sangat bagus. (bravo Lamongan)

Masih banyak cerita ketika ngobrol dengan dalam perjalanan rokhani itu, tetapi yang paling member inspirasi, obrolan berkait dengan bahasa Indonesia.

Jika kita amati dan kita cermati pola pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah kita memang masih banyak yang berkutat di model konvensional. Dengan model seperti itu membawa pengaruh besar terhadap model berfikir para siswa ketika mengikuti pelajaran bahasa Indonesia jika pembelajaran itu lebih banyak didasari dengan pendekatan logika. Itu sangat saya rasakan ketika saya mengajar di tingkat SMA atau pun ketika memberi kuliah di perguruan tinggi. Mereka sangat sulit menjawab soal dengan pendekatan logika. Sampai-sampai, ketika setiap kali pertama saya mengajar di kelas X, materi yang saya berikan kepada mereka adalah “Sudahkah kita berbahasa Indonesia?” Itu pun saya memberikannya tidak cukup satu, dua kali pertemuan. Mengapa memerlukan waktu panjang? Sekali lagi, dasar-dasar logika bahasa Indonesia harus kita kenalkan dan kita terapkan kepada mereka. Itu pun perlu ketelatenan dan wawasan yang cukup guru yang bersangkutan.

Untuk bisa berbuat dan menerapkan logika bahasa Indonesia, guru yang mengajarkan bahasa Indonesia harus:
1. Memiliki wawasan yang cukup tentang bahasa Indonesia. Wawasan itu tidak akan hanya diperoleh ketika masih berkuliah. Justru, yang lebih banyak diperoleh dari perjalanan hidup bersama bahasa Indonesia itu sendiri.
2. Guru bahasa Indonesia harus memiliki keberanian secara revolusioner melakukan 
     terobosan-terobosan yang secara logika memiliki kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Harus diakui, tidak semua materi pembelajaran bahasa Indonesia harus didekati dengan pendekatan logika. Tetapi, tidak sedikit juga materi bahasa Indonesia yang harus didekati dengan pendekatan itu. Malahan, jika materi yang seharusnya dikelola dengan pendekatan logika, tetapi justru materi itu didekati dengan pendekatan konvensional, hasilnya justru menjadi salah. Materi-materi yang harus menggunakan pendekatan logika tidak hanya terbatas pada materi kebahasaan, tetapi justru materi kesesastraan banyak juga yang harus dipecahkan dengan menggunakan pendekatan logika.
Mari kita coba mengikuti alur permasalahan berikut!
Missal, seseorang membuat karya tulis “cerita” sebagai berikut:

Suatu hari aku berjalan-jalan di suatu tempat. Keindahan alam terpajang alami. Tiada rasa dan mata manusia yang tak menyanjungNya. Sayang saat itu aku sendiri. Dan memang masih sendiri. Menjelang di suatu belokan jalan aku  merasa ada sesuatu yang menarik terhadap hatiku. Ternyata ada sesosok wanita sedang berjalan diantara rombongan. Tampak ia sangat menikmati. Itulah kamu. Harapanku. Dambaanku. Walau aku belum pernah beradu kata. Karena itu  ketika berpapasan  aku pandang wajahmu dengan rasa hatiku. Tetapi tiada reaksi apapun yang terpancar disudut matamu. Hanya kehampaan yang ada. Hanya kesunyian yang nyata. Asaku sirna.  Tiadakah rasa.

Sepintas, sepertinya tulisan itu tidak ada masalah. Karena kepandaian penulis membungkus wacana itu dengan cerita yang indah, kesalahan-kesalahan pada wacana itu tidak terasakan.

Menjelaskan kesalahan-kesalahan apa saja yang terdapat pada wacana itu, tidak cukup dipecahkan secara konvensional. Tetapi, harus dibarengi dengan pendekatan logika. Sehingga, jika wacana itu dihadapkan kepada para siswa dan kesalahan yang ada dijelaskan dengan pendekatan logika, para siswa pasti akan menerima. Padahal, wacana itu seharusnya ditulis sebagai berikut

Suatu hari aku berjalan-jalan di suatu tempat. Keindahan alam terpajang alami. Tiada rasa dan mata manusia yang tak menyanjung-Nya. Sayang, saat itu aku sendiri. Dan, memang masih sendiri. Menjelang di suatu belokan jalan, aku  merasa ada sesuatu yang menarik terhadap hatiku. Ternyata ada sesosok wanita sedang berjalan di antara rombongan. Tampak ia sangat menikmati. Itulah kamu. Harapanku. Dambaanku. Walau, aku belum pernah beradu kata. Karena itu, ketika berpapasan, aku pandang wajahmu dengan rasa hatiku. Tetapi, tiada reaksi apa pun yang terpancar di sudut matamu. Hanya kehampaan yang ada. Hanya kesunyian yang ada. Asaku sirna. Tiadakah rasa?

Tulisan berwarna, member informasi bahwa di wilayah itu harus ada sesuatu yang diterapkan. Cara menjelaskannya tidak semata karena aturannya di EYD harus seperti itu. Tetapi, juga harus didekati secara logika, mengapa itu harus begitu sedangkan yang ini harus begini.

Memang, sekian jumlah kesalahan itu tidak terasa sama sekali mengganggu kita menikmati isi wacana itu. Tetapi, logika umumnya menjadi, seperti itukah pemakai bahasa Indonesia berbahasa Indonesia?

Contoh lain yang benar-benar pembongkarannya harus menggunkan logika. “Adik saya memakan nasi goreng kemarin”. Bagi yang membuat kalimat itu paham betul terhadap isi kalimat itu. Tetapi, bagi orang lain akan sangat tidak memahami, apa sebenarnya yang diingini pembuat kalimat itu. Sehingga, muncul sekian jumlah pertanyaan:
1.  Siapa yang memakan nasi goreng? Saya? Adik saya? Adik dan saya?
2.  Kapan aktivitas itu dilaksanakan? Kemarin? Sekarang?
3.  Nasi goreng kapan yang dimakan? Kemarin? Sekarang?
4.  Kalimat itu hanya sekedar memberi tahu si adik?
Logika yang bagaimanakah yang harus kita terapkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?
Jika yang diingini menimbulkan makna “saya yang memakan nasi goreng”, logikanya, pembacaannya harus ada jeda anatara “adik dan saya”. Salah satu wujud “jeda antara” berupa tanda baca koma. Karena itu, kalimat “Adik saya memakan nasi goreng kemarin” menjadi “Adik, saya memakan nasi goreng kemarin”. Dengan catatan, penulisan model seperti itu dengan kasus seperti itu tidak boleh diartikan yang melakukan aktivitas dua orang. Jika yang melakukan aktivitas dua orang yaitu “adik dan saya”, ada cara yang harus dilakukan dan logika kita harus menerima. Bagaimana caranya? Di antara “adik” dan “saya” diberi kata sambung “dan”. Apa logikanya? Pembaca akan mengucapkan gabungan kata “adik dan saya” dalam satu kesatuan dan jeda jatuh setelah kata “saya”.
                                                                                                                                                                                             
Jika yang melakukan aktivitas itu hanya “adik” sedangkan “saya” sebagai kata ganti milik, logika pembacaannya antara “adik” dan “saya” tidak boleh ada jeda antara. Jeda antara harus diletakkan setelah kata “saya” sehingga penulisannya harus diberi tanda hubung (-) di antara kata “adik” dan “saya”, menjadi “Adik-saya memakan nasi goreng kemarin”.

Berikutnya yang harus mendapat perhatian adalah gabungan kata “nasi goreng kemarin”. Logika yang harus diterapkan pada kasus itu adalah:
1.  Jika kata “kemarin” sebagai keterangan terhadap “nasi goreng”, penulisannya harus dihubungkan dengan “nasi goreng” menggunakan tanda hubung (-) menjadi “nasi goreng-kemarin”. Sehingga, kalimatnya menjadi  “Adik-saya memakan nasi goring-kemarin”.
2.  Jika “kemarin” sebagai keterangan seluruh isi kalimat itu, ada dua cara yang dapat kita lakukan:
a. Setelah kata “goreng”, kita beri tanda baca koma (,), menjadi  “Adik-saya memakan nasi goring, kemarin”.
b. kata “kemarin” kita jauhkan dari gabungan kata “nasi goreng”, menjadi  “Kemarin adik-saya memakan nasi goreng”. Atau, “Adik-saya kemarin memakan nasi goreng”.
Jika demikian, kalimat “Adik saya memakan nasi goreng kemarin”. Jika ditinjau dari sudut logika makna, seharusnya ditulis sebagai berikut:
1.  Adik, saya memakan nasi goreng-kemarin.
2.  Adik-saya memakan nasi goreng-kemarin.
3.  Adik dan saya memakan nasi goreng-kemarin.
4.  Adik, kemarin saya memakan nasi goreng.
5.  Adik, saya kemarin memakan nasi goreng.
6.  Adik-saya kemarin memakan nasi goreng.
7.  Adik dan saya kemarin memakan nasi goreng.
Bagaimana dengan kalimat yang memiliki kemiripan dengan kalimat itu? Misal, Adik, saya dan kakakku memakan nasi goreng. Pertanyaannya menjadi, berapa orang yang memakan nasi goreng? Dua orang atau tiga orang? Jika yang melakukan aktivitas itu dua orang, penulisan seperti itu sudah benar. Tetapi, jika yang melakukan aktivitas tiga orang yaitu adik, saya, dan kakakku, penulisan seperti itu masih salah. Seharusnya ditulis “Adik, saya, dan kakakku memakan nasi goreng”. Bagaimana logikannya? Jika setelah kata “saya” diberi tanda baca koma, logika pembacaannya harus ada jeda antara, tetapi jika tidak ada, tidak boleh ada jeda antara setelah kata “saya” jeda antara baru-ada setelah “kakakku”.
Mengapa masyarakat pengguna bahasa Indonesia tampak tidak begitu peduli terhadap pemakaian bahasa sendiri? Berdasar pengalaman dan penelitian tidak resmi, beberapa hal yang menjadikan hal seperti itu antara lain:
1.  Rasa cinta terhadap bahasa Indonesia
2.  Bangsa Indonesia itu sangat dekat dengan bahasa Indonesia, tetapi jauh dari rasa hatinya.
3. Mengikuti kebiasaan pemakaian bahasa yang pernah digunakan orang lain, baik secara vertikal maupun horizontal.
4.  Tidak mengetahui jika bahasayang digunakan ada kekurangbenaran.
5.  Adanya kebiasaan “yang penting dapat dimengerti”.
Di lingkungan pendidikan, apa yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi kejadian-kejadian seperti itu? Ada beberapa yang bisa kita lakukan, antara lain:
1. Tertanam rasa cinta bahasa Indonesia lahir batin.
2. Tidak membiasakan “yang penting dapat dimengerti”.
3. Memahami, mampu, dan mau menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.
4. Tidak menggampangkan pemakaian bahasa Indonesia.
Suatu hari datang seorang teman mengajak diskusi tentang problematika bahasa Indonesia. Yang bersangkutan merasa bersalah dan berdosa jika apa yang belum lama ini (katanya) disampaikan kepada siswanya masih diragukan kebenarannya. Yang bersangkutan menuliskan apa yang menjadi ganjalan hati dan pikirannya. Persoalannya penggunaan tanda kutip (“) pada kalimat kutipan langsung yang benar ditulis sebelum tanda koma atau setelah tanda baca koma.
Untuk menjelaskan itu, saya tidak mengatakan di EYD aturannya begini. Yang saya katakan adalah setiap segmental selalu diawali kesenyapan dan juga diakhiri kesenyapan. Kesenyapan akhir bisa berupa tanda titik (.), tanda tanya (?), atau mungkin tanda seru (!). Penulisan tanda baca kutip pada posisi kesenyapan akhir ditulis setelah kesenyapan akhir itu. Selain kedua kesenyapan itu, jika klausa atau kalimat itu panjang, biasanya, ada kesenyapan antara. Salah satu wujud kesenyapan antara adalah tanda baca koma. Tanda baca koma, hakekatnya tidak jauh berbeda dengan kesenyapan akhir. Jika tanda baca kutip pada kesenyapan akhir ditulis setelah lambang kesenyapan akhir maka logikanya tanda kutip ditulis setelah tanda kesenyapan antara.

Lega rasanya logika yang saya paparkan bisa diterima.

Hal lain yang seharusnya juga perlu pendekatan logika adalah permasalahan paragraf, khususnya paragraf persuasi.  Penjelasan yang dipaparkan tentang paragraf  persuasi. Hanya sayangnya, pendekatannya belum sampai pendekatan logika. Pendekatan yang digunakan baru pendekatan secara fisik, yaitu cirri-ciri yang secara jelas tampak pada jenis paragraf persuasi. Jika hal seperti it terus berlanjut, tidak akan pernah ada perkembangan sudut pandang terhadap pembelajaran penulisan paragraf persuasi. Padahal, di sekeliling kita banyak penulisan paragraf yang secara fisik tidak ada tanda-tanda persuasi, tetapi berdasar hakikat yang sebenarnya, bentuk tulisan itu seharusnya disebut persuasi.
Misal:
Pada awal Romadan, angin berembus dari bawah singgasana Tuhan, dan daun-daun pepohonan surga pun bergoyang hingga terdengar desir semilir teramat merdu. Tak pernah terdengar desir semilir semerdu itu. Menyaksikan hari pertama Romadan itu, orang-orang bermata jelita berdoa, “Ya, Allah, pada bulan Romadan ini jadikanlah salah seorang di antara hamba-Mu sebagai pasangan hidupku.” Maka Allah pun mengawinkan orang yang berpuasa dengan salah seorang dari orang yang bermata jelita itu. Bagi setiap orang yang bermata jelita tersedia 70 perhiasan warna-warni dan dipan dari batu mulia warna merah berhias mutiara.Disiapkan pula 70 kasur dan 70 aneka makanan. Semua itu khusus untuk orang yang berpuasa pada bulan Romadan, tanpa memperhitungkan amal kebaikannya yang lain.
                      (“Romadan dalam Imajinasi Nabi”, Jamal D. Rahman, Horizon Edisi IX, X 2007)
Secara fisik tulisan itu tidak menggambarkan paragraf persuasi, justru menunjukkan cirri deskripsi. Karena itu, banyak siswa atau pun guru BI mengatakan paragraf itu deskripsi. Jika hanya bertumpu pada ciri fisik, tidak salah dikatakan deskripsi.

Persoalannya menjadi (sebagai pembanding belaka), jika ada sesosok tubuh manusia memiliki ciri fisik seperti ciri fisik wanita dan ada kemungkinan justru melebihi cirri fisik wanita, selalukah dia kita sebut wanita? Beberapa waktu lalu Thailand menobatkan seorang penyanyi menjadi penyanyi idola. Secara fisik penyanyi idola itu boleh dikata cantik, suaranya merdu, seksi. Jika hanya berdasar ciri fisik itu, banyak orang akan mengatakan penyanyi itu wanita. Padahal, jika dilihat dengan menggunakan pendekatan “hakikat”, kita tidak akan mengatakan penyanyi itu wanita. Mengapa? Karena, dia termasuk kelompok “transseksual”.

Tidak jauh berbeda dengan contoh paragraf itu, hanya tidak mungkin kita sebut paragraf transseksual. Paragraf seperti itu kita sebut sebagai paragraf persuasi implisit. Artinya secara fisik tidak menunjukkan ciri persuasi, tetapi berdasar tujuan penulisan berisi persuasi. Pada paragraf itu dipamerkan kenikmatan-kenikmatan yang bisa diperoleh oleh orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Kenikmatan-kenikmatan seperti itu merupakan tujuan akhir manusia beriman. Itu berarti, dengan memaparkan keindahan dan kenikmatan seperti itu bertujuan memersuasi manusia beriman untuk melaksanakan ibadah puasa. Jika demikian, salahkah bentuk penulisan seperti itu disebut persuasi? Karena penampilannya deskripsi, akan lebih tepat jika disebut paragraf persuasi deskriptif.

Dan, masih banyak lagi contoh-contoh lain yang secara fisik bukan persuasi, tetapi secara tujuan berisi persuasi.

Dalam bidang pembelajaran sastra pun, ada beberapa bagian materi pembelajaran sastra yang penganalisisannya harus menggunakan pendekatan logika.  Mari kita cermati puisi berikut:

Aku Dimakamkan Hari Ini

Perlahan, tubuhku ditutup tanah
perlahan, semua pergi meninggalkanku,
masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka,
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
sendiri, menunggu keputusan...

Isteri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,
anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apalah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,
rekan bisnis, atau orang-orang lain,
aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

Isteriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,
anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,
Tangan kananku menghibur mereka,
kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
tetapi aku tetap sendiri di sini,
menunggu perhitungan ...

Menyesal sudah tak mungkin,
Tobat tak lagi dianggap,
dan maaf pun tak akan didengar,
aku benar-benar harus sendiri ...

Tuhanku
(entah dari mana kekuatan itu datang
setelah sekian lama aku tak dekat dengan-Nya)
jika Kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika Kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja ...

Aku harus berkeliling, memohon maaf pada mereka,
yng selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang terindas akan kuasaku,
yang selama ini aku sakiti hatinya,
yang selama ini telah aku bohongi,

Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
yang aku kumpulkan dengan wajah gembira,
yang aku kuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan bahkan yang kutelan,
Aku harus tuntaskan janji-janji palsu yang sering aku umar dulu,

Dan Tuhan,
beri aku beberapa hari milik-Mu
untuk berbakti kepada ayah ibu tercinta,
teringat kata-kata kasar dan keras yang menyakitkan hati mereka,
maafkan aku ayah ibu,
mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu,
beri aku juga waktu
tuk berkumpul dengan isteri dan anakku,
untuk sungguh-sungguh beramal saleh,
Aku sungguh ingin bersujud di hadap-Mu,
bersama mereka,
Begitu sesal diri ini,
karena hari-hari telah berlalu tanpa makna
penuh kesia-siaan
kesenangan yang pernah kuraih dulu,
tak ada artinya sama sekali
mengapa kusiai-sia saja
waktu hidup yang hanya sekali itu
andai kubisa putar ulang waktu itu ...

Aku dimakamkan hari ini,
dan semuanya menjadi tak termaafkan,
dan semua menjadi terlambat, dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan ...
                                                             (Dikutip dari internet)

Jika kita berbicara titik pandang, puisi ini tidak bisa dikatakan menggunakan titik pandang orang pertama. Mengapa? Karena, persyaratan titik pandang orang pertama adalah pengarang harus menjadi pelaku dalam cerita yang sedang diceritakan, baik sebagai pelaku utama atau pun sebagai pelaku lain.

Secara logika, sangat tidak mungkin pengarang cerita itu menjadi salah satu pelaku cerita tersebut. Karena, yang diceritakan pengalaman orang yang sedang dimakamkan. Pengarang hanya sekedar mengemajikan jika dirinya kelak meninggal dunia. Sehingga di cerita itu, pengarang seakan memerankan dirinya sebagai pelaku yang diceritakan. Penceritaan seperti ini sebenarnya masih masuk wilayah model penceritaan orang ketiga, bukan wilayah orang pertama.